"Namun ketika musim kemarau, level air permukaan menyusut drastis, sehingga menurunkan tekanan balik. Hal ini memicu pelepasan air tanah secara masif dari area tangkapan air (recharge area) yang letaknya jauh menuju titik keluar yang tekanannya lebih rendah," sambungnya.

Faktor terakhir yang mungkin terjadi yakni pengaruh antropogenik atau intervensi dari manusia. Prof Sri menjelaskan bahwa faktor ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas manusia di sekitar mata air.

"Di antaranya akibat pola pompa bersama, yaitu pada musim hujan, para petani atau industri di sekitar wilayah tersebut biasanya mengandalkan air hujan dan mematikan sumur bor mereka," terang Prof Sri.

"Namun jika ada anomali penggunaan misalnya ada sistem drainase besar yang menyedot air tanah saat hujan agar tidak banjir, debit air lokal bisa mengecil. Sebaliknya, regulasi pengisian kembali atau artificial recharge yang berhasil di hulu sering kali baru berdampak pada peningkatan debit di hilir saat kemarau tiba," tambahnya.

Setelah mencermati pengamatan NadiKabar di lokasi dan pernyataan warga setempat bahwa Kali Odo akan kering total saat musim kemarau dan anomali ini sudah berlangsung sejak dulu kala, Prof Sri menduga kuat dari keempat faktor tersebut ada dua yang paling memungkinkan.

"Kemungkinan besar terjadi karena pengaruh waktu jeda aliran atau lag time. Tetapi jika memang di wilayah tersebut didominasi oleh batuan kapur, maka pengaruh karakteristik sistem akuifer karst juga sangat mungkin menjadi penyebab anomali hidrologi di Kali Odo," kata Prof Sri.

Prof Sri juga berpesan kepada masyarakat setempat untuk bisa menjaga dan memperluas daerah resapan di Kali Odo sebagai langkah penting dalam pengelolaan sumber daya air.

"Daerah resapan adalah wilayah yang berfungsi sebagai tempat masuknya air ke dalam tanah. Kawasan ini biasanya berupa hutan, lahan terbuka, atau area dengan vegetasi yang masih alami," ujar Prof Sri.

"Upaya seperti penghijauan, pembuatan sumur resapan, dan pengurangan penggunaan beton dapat membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah," pungkasnya.