Proses air hujan tiba hingga ke lapisan akuifer dalam bisa saja selesai pada saat kemarau tiba. Menurut Prof Sri, hal inilah yang bisa membuat mata air baru mengalir saat musim kering.

"Saat musim kemarau air yang meresap selama berbulan-bulan sepanjang musim hujan baru saja tiba dan berkumpul di lapisan akuifer dalam. Akibatnya, debit atau aliran air tanah justru memuncak saat di permukaan sudah memasuki musim kemarau," papar Prof Sri.

Faktor kedua anomali hidrologi yang bisa terjadi di Kali Odo yakni pengaruh karakteristik sistem akuifer karst atau batuan kapur. Hal ini dapat terjadi bilamana di wilayah Kali Odo didominasi oleh batuan kapur atau topografi karst.

"Pengaruh ini mungkin terjadi karena sifat lorong bawah tanah dari topografi karst. Di dalam batuan karst, air mengalir melalui jaringan sungai bawah tanah dan gua," kata Prof Sri.

Ia menjelaskan bahwa beberapa sistem gua memiliki struktur menyerupai siphon atau pipa melengkung. Efek siphon akan muncul saat air telah terkumpul dengan ketinggian tertentu di dalam rongga batuan.

"Air harus terkumpul hingga ketinggian tertentu di dalam rongga batuan sebelum efek siphon terpicu dan mengalirkan air dalam jumlah besar," ujar Prof Sri.

Proses pengumpulan airnya juga bisa memakan waktu sepanjang musim penghujan. Sehingga efek siphon baru muncul ketika musim kering tiba.

"Proses pengumpulan ini seringkali memakan waktu selama musim hujan, dan baru mengalir deras setelah mencapai titik puncak di musim kemarau," papar Prof Sri.

Faktor lain yang mungkin terjadi dalam anomali hidrologi yakni pengaruh tekanan hidrolik air permukaan dan pumping test. Menurut Prof Sri, air permukaan di sebuah sungai atau danau dengan air tanah dapat berhubungan dan memicu anomali.

"Saat musim hujan level air permukaan sungai atau limpasan banjir meningkat drastis. Hal ini kadang menciptakan tekanan hidrolik yang menahan keluarnya air tanah pada titik-titik mata air tertentu (gaining-losing stream interaction), atau membuat air tanah terjebak," papar Prof Sri.