Edukasi kepada masyarakat diarahkan untuk mengubah kebiasaan, sementara teknologi digunakan untuk membantu mengolah tumpukan sampah.

"Dengan adanya rekayasa dari sisi sosial maupun rekayasa dari sisi teknologi, itu bisa menurunkan produksi sampah. Dari edukasi tentang pemilahan dan juga produksi sampah di masyarakat, itu penurunan (produksi sampah) nya luar biasa," katanya.

Harits mengatakan, program tersebut dijalani selama kurang lebih tiga bulan. Selama periode itu, pihak universitas bahu-membahu bersama warga Kecamatan Arcamanik berupaya mengelola sampah dengan berbagai cara dan pendekatan.

Hasilnya, ia mengatakan, terdapat penurunan volume sampah yang cukup signifikan di sumber sampah. Pada awalnya, Unisba menargetkan pengurangan produksi sampah sebesar 10 persen dari seluruh kecamatan.

"Tapi ternyata setelah kita evaluasi kembali, itu turunnya sampai 16 persen selama tiga bulan, melampaui target," jelasnya.

Tak sampai di sana, ia mengatakan, pengelolaan sampah di masing-masing kelurahan pun terus berlanjut, bahkan ketika program pendampingan dari kampus telah selesai.

"Tetapi kemarin dievaluasi kembali, sebagai keberlanjutan program ini, malah penurunannya 24 persen. Ini luar biasa," katanya.

"Bisa dibayangkan 24 persen untuk satu kecamatan atau untuk 54 RW. Kalau misalkan di sini ada sekitar 5.400, kan kelipatannya luar biasa juga," lanjutnya.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat memberikan dampak langsung apabila pengetahuan yang dimiliki dosen dan mahasiswa dipadukan dengan kebutuhan masyarakat.

"Ini tentunya menjadi satu nilai tambah bagaimana dampak yang bisa diberikan oleh perguruan tinggi. Ini bisa mengubah pola masyarakat dalam menghasilkan sampah," katanya.

Perubahan yang dimaksud, ia memaparkan, bukan sekadar mengurangi jumlah sampah. Tetapi juga mengubah kebiasaan masyarakat dari pola lama membuang sampah menjadi memilah dan mengolahnya sejak dari sumber.