"Tidak lagi bergantung pola lama, kumpul, kemudian buang. Tapi sekarang dikumpulkan, dipilah, diolah, dan baru nanti dimusnahkan bila sudah tidak bisa diolah," ujar Harits.

Harits mengatakan pendekatan lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan program tersebut. Meski tidak memiliki program studi teknik lingkungan maupun teknik mesin, namun kerja sama dari berbagai fakultas yang ada dapat mewujudkan solusi yang dibutuhkan masyarakat.

"Unisba itu tidak punya prodi teknik lingkungan, tidak ada juga prodi teknik mesin. Tetapi Unisba punya kedokteran, punya psikologi, punya fakultas di bidang keagamaan, punya teknik industri. Inilah yang berkolaborasi," katanya.

Menurutnya, Fakultas Psikologi dapat berkontribusi dalam memahami perilaku masyarakat, sementara bidang keagamaan dapat memperkuat pendekatan edukasi melalui nilai-nilai agama.

Sementara itu, Fakultas Farmasi, Sains, Kedokteran, dan Teknik Industri juga dapat memberikan kontribusi dari sisi keilmuan masing-masing.

"Bagaimana mengedukasi masyarakat, itu tentunya melibatkan Fakultas Psikologi, karena bicara tentang perilaku. Kemudian pendekatan agama, di situ ada fakultas tarbiyah, ada fakultas dakwah. Kemudian juga bagaimana tanggung jawab yang lainnya, di situ ada Fakultas Farmasi dan Sains, ada produk farmasi, ada produk kedokteran," tuturnya.

Selain pendekatan sosial, Unisba juga mengembangkan teknologi pengolahan sampah berupa Reaktor Plasma Dingin (RPD).

Teknologi ini dikembangkan sebagai alternatif dari metode pembakaran sampah menggunakan insinerator yang dapat menimbulkan persoalan baru berupa polusi udara dan mikroplastik.

"Pakai insenerator itu muncul masalah baru, adanya polusi udara, kemudian adanya mikroplastik. Dari sana kita coba rekayasa teknologi itu supaya tidak menghasilkan polusi. Namanya Reaktor Plasma Dingin," jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap model kolaborasi penanganan sampah yang diterapkan di Arcamanik tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian, tetapi juga dapat direplikasi di wilayah lain.

"Program ini diharapkan nanti bisa direplikasi. HI-CARE Zero Waste Unisba sudah memiliki model, template, dan menghasilkan sesuatu. Artinya tidak hanya 'omon-omon', tidak hanya cerita saja, tetapi juga ini adalah bukti nyata," pungkasnya.