NADIKABAR.COM — Universitas Pertamina melalui Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP) Indonesia menyelenggarakan “GreenLink: Greenovate Startup Accelerator 2026 Final & Demo Day”, yang membawa berbagai inovasi melalui perusahaan rintisan di bidang kimia hijau.
Project Director GGINP Indonesia Teuku Muhammad Roffi dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, mengatakan program ini ditujukan untuk mempertemukan inovasi startup di bidang kimia hijau (green chemistry) dengan kebutuhan nyata industri dan membuka ruang bagi kolaborasi, pengembangan pasar, investasi, serta implementasi solusi secara lebih luas.
“Kami berharap startup kimia hijau bisa melakukan seperti startup digital yang sebelumnya sudah berkembang di Indonesia dan membawa dampak yang cukup besar,” kata Roffi.
Adapun GreenLink menjadi puncak dari rangkaian Greenovate Startup Accelerator 2026 yang mempertemukan startup dengan pelaku industri, investor, pemerintah, serta mitra ekosistem inovasi.
Greenovate Startup Accelerator 2026 merupakan program pengembangan startup yang berfokus pada inovasi berbasis green chemistry dan keberlanjutan.
Pada tahun ini, program menerima 130 startup pendaftar. Sebanyak 73 startup kemudian lolos tahap administrasi, 37 startup terpilih mengikuti Pre-Bootcamp, hingga akhirnya 11 startup melanjutkan perjalanan ke Main Bootcamp dan tahap final.
Sebelas startup tersebut adalah Aither, Angphot, Blue Forests, Econella, Fure, Mustav & Co., Organic Culture, Satuplatform, STB Pellet, Tarunira, dan Zona Farm. Mereka membawa beragam solusi dan model bisnis yang dikembangkan untuk menjawab tantangan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta kebutuhan industri yang semakin mengarah pada praktik berkelanjutan.
Sebelum mencapai tahap final, peserta telah menjalani rangkaian pengembangan yang terdiri atas enam sesi Pre-Bootcamp, 12 sesi Main Bootcamp dan tiga Community Sessions.
Roffi mengatakan rangkaian tersebut menjadi bagian penting dari Greenovate Startup Accelerator karena program tidak hanya mempersiapkan peserta untuk melakukan pitching, tetapi juga membantu startup menguji relevansi solusi, memperkuat model bisnis, serta memahami kebutuhan pasar sebelum bertemu dengan calon mitra dan investor.
“Melalui GreenLink, kesebelas startup mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan perkembangan bisnis dan solusi mereka secara langsung kepada berbagai pemangku kepentingan,” kata Roffi.
Kegiatan ini melibatkan perwakilan pemerintah, industri, investor, akademisi, serta lembaga internasional, termasuk UNIDO dan Yale University, sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi bagi startup peserta.