Sementara itu, abu vulkanik adalah jenis tephra halus.Partikel abu vulkanik sangat kecil, dengan diameter kurang dari 2 mm, sering kali kurang dari 10 mikron. Abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jarak yang cukup jauh sehingga dapat berdampak pada warga yang jauh dari kawah gunung api, termasuk jika terhirup.

USGS menjelaskan, abu vulkanik terdiri dari partikel-partikel kecil bergerigi dari batuan dan kaca alami yang terlempar ke udara oleh aktivitas gunung api. Meskipun dikenal dengan nama 'abu', abu vulkanik merupakan partikel pecahan, bukan hasil bakaran api seperti abu lembut dari bakaran kertas atau kayu.

Selaras, British Geological Survey (BSG) menjelaskan, abu vulkanik terdiri dari pecahan kaca dan batuan kecil, tajam, dan bersudut, sehingga memiliki sifat abrasif. Karena itu, tidak hanya bisa merusak organ manusia, abu vulkanik bisa merusak pesawat terbang.

Materi penyusun abu vulkanik yang basah dapat menghantarkan listrik. Karena itu, pemadaman listrik dapat terjadi di daerah yang terkena hujan abu vulkanik untuk mengantisipasi korsleting dan kerusakan komponen elektronik.

Setelah letusan penghasil abu vulkanik berakhir, angin dan aktivitas manusia bisa membuat abu vulkanik berputar-putar di lingkungan tempat jatuhnya selama berbulan-bulan dan bertahun tahun sehingga berbahaya bagi kesehatan dan ekonomi dalam jangka panjang.

Peneliti Volcano Science Center USGS David Damby dan rekan-rekan dalam Frontiers in Immunology (2018) menjelaskan, abu vulkanik adalah debu mineral heterogen yang biasanya terdiri dari campuran fragmen amorf (kaca) dan kristalin (mineral). Abu vulkanik umumnya mengandung banyak polimorf silika kristalin (SiO2 ) kristobalite.