Pasir silika atau kuarsa yang mengandung silika kristalin dapat menjadi bahan pembuat kaca. Jika terhirup, silika kristalin dapat memicu peradangan dengan merangsang inflammasom NLRP3, kompleks reseptor dalam tubuh yang penting dalam mendorong respons imun inflamasi.
Kementerian Kesehatan Singapura menjelaskan, di samping silika, abu vulkanik juga mengandung sejumlah kecil kalium, aluminium, dan besi. Pada orang sehat, paparan jangka pendek terhadap tingkat abu vulkanik yang tinggi dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, saluran pernapasan, kulit, dan mata, serta dapat masuk ke balik softlens.
Sedangkan bagi yang sudah memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis, misalnya asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau gagal jantung, potensi pengaruh pada jantung dan paru-paru menjadi lebih tinggi.
USGS menjelaskan, partikel abu juga sering dilapisi dengan hidrogen halida (HF, HCl, HBr) yang adalah asam beracun. Setelah mengendap, partikel abu yang dilapisi hidrogen halida dapat meracuni pasokan air minum, tanaman pertanian, dan lahan penggembalaan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta warga di daerah yang terdampak abu vulkanik mewaspadai potensi dampak kesehatan dengan mengurangi kegiatan di luar ruangan dan memakai masker.
"Kalau pun harus keluar, jangan lupa pakai masker. Utamakan memakai masker dengan tipe KN95. Kalau tidak ada masker KN95, cari apapun masker yang ada atau setidaknya menutup hidung dan mulut," kata Budi melalui akun Instagram, diakses Senin (7/9/2026).