Atas kejadian itu, lanjut Rohmi, Dinas Kesehatan Sleman pun menindaklanjuti dengan menyebarkan angket google form guna mendeteksi adanya siswa lain yang terdampak. Tracking dilakukan tak hanya di SD tersebut, namun juga di sekolah lain yang menerima MBG dari SPPG yang sama.

Hasilnya, terdapat 28 orang lagi yang mengalami gejala keracunan. Rinciannya 25 siswa dan satu guru di SD Nyaen, serta dua siswa TK Keluarga. Namun 28 itu menurutnya hanya mengalami gejala ringan.

"Hasil tracking yang pakai Google Form itu, memang bergejala ringan tapi tetap sekolah. Kemudian yang satu itu TK Keluarga, masih di wilayah sekitaran situ juga dan cuma dua siswa, tapi itu juga ringan ttetap bersekolah. Yang satu tendik (tenaga pendidik) kalau informasi tadi iya (tendik SD Nyaen)," papar Rohmi.

Tak berhenti di situ, kata Rohmi, hasil tracking via google form itu juga mendeteksi adanya siswa di dua SMA di wilayah tersebut yang juga mengalami gejalan keracunan, yakni SMA Negeri 2 Sleman dan YPKK. Namun jumlah siswa bergejala hingga kini masih dalam proses pendataan.

"Bergejala ringan dan tidak rawat jalan maupun rawat inap, dalam pantauan lah. Kami minta ke Puskesmas untuk memantau perkembangan, termasuk yang di YPKK. Tapi ini kan kita juga masih terus mengolah data yang Google Form," papar Rohmi.

"Jadi itu kan Google Form-nya itu diedarkan kemarin ya. Nah yang siang tadi, sore saya belum memantau itu, ternyata masih ada tambahan beberapa yang masuk ngisi ke Google Form," sambungnya.