Dengan kata lain, seseorang bisa saja memiliki urine yang berbau setelah makan jengkol tanpa berarti fungsi ginjalnya sedang lebih baik dibandingkan orang yang urinenya tidak berbau.
Untuk mengetahui kondisi ginjal, diperlukan pemeriksaan medis yang sesuai, bukan sekadar mengamati aroma urine.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah jangan menyamakan urine berbau setelah makan jengkol dengan kondisi yang dikenal sebagai djenkolism atau βjengkolanβ.
Djenkolism merupakan kondisi yang jarang terjadi setelah konsumsi jengkol dan berkaitan dengan gangguan pada saluran kemih atau ginjal. Laporan medis mencatat gejala seperti nyeri perut bagian bawah atau pinggang, sulit buang air kecil, urine berdarah, hingga cedera ginjal akut. Salah satu dugaan mekanismenya adalah terbentuknya kristal asam jengkolat di saluran kemih.
Artinya, urine yang sekadar berbau setelah makan jengkol tidak sama dengan jengkolism.
Jika hanya muncul aroma khas dan tidak disertai keluhan lain, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan konsumsi jengkol. Namun, apabila setelah makan jengkol muncul nyeri pinggang atau perut yang berat, sulit atau tidak bisa buang air kecil, serta urine berdarah, kondisi tersebut perlu segera diperiksakan, demikian mengutip National Library of Medicine AS dan sumber-sumber lain.