NADIKABAR.COM — Embun pagi belum sepenuhnya hilang ketika desir angin yang menyisir rerimbunan terpecah oleh kepakan kecil yang beterbangan. Dengung lebah mulai terdengar dari sela-sela pepohonan.

Di antara hamparan hutan dan tanaman akasia di Riau, suara itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan dari usaha madu.

Dari nektar bunga yang dikumpulkan lebah, dihasilkan madu yang kemudian menjadi sumber usaha. Dari usaha itu pula tumbuh kesadaran untuk mempertahankan hutan yang menjadi sumber pakan lebah.

Mereka memanfaatkan hasil hutan tanpa menebang pohon atau membuka lahan dengan api. Lebah dipelihara, madu dipanen, sementara vegetasi tetap dipertahankan sebagai sumber makanan bagi koloni.

Salah satu pelaku usaha tersebut adalah Leni Lestiarini, pengusaha madu yang berhasil membawa produk madu Riau menembus pasar Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.

Perjalanan itu tidak berlangsung singkat. Usaha tersebut bermula dari kegigihan almarhum suaminya, Purnomo, yang ketika itu bekerja sebagai peneliti lebah pada Dinas Kehutanan Provinsi Riau di Pekanbaru.

Pekerjaan Purnomo mempertemukannya dengan banyak kelompok petani lebah. Ia datang, berdiskusi, mencatat, meneliti, dan melihat langsung bagaimana masyarakat menggantungkan penghidupan dari koloni-koloni lebah di sekitar hutan.

Dalam satu kali panen, kelompok petani yang ditemuinya bahkan mampu mengumpulkan madu hingga sekitar 260 ton. Jumlah tersebut menjadi peluang ekonomi, tetapi muncul persoalan bagaimana memasarkannya.

Madu tersedia dalam jumlah besar, sementara akses pasar belum sebanding dengan kemampuan produksi para petani.

Purnomo dan Leni kemudian membantu memasarkan hasil panen tersebut melalui produk madu Wilbi. Upaya itu perlahan membuka jalan bagi madu hasil produksi petani untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Menurut Leni, usaha tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemasaran madu, tetapi juga dengan petani yang memelihara lebah dan lingkungan yang menyediakan sumber pakan bagi koloni.