Dalam elektrifikasi armada, setiap implementasi dirancang berdasarkan kebutuhan operasional pelanggan, mulai dari jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya, hingga ketersediaan energi di lokasi. Melalui produk Mobility, pendekatan tersebut mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, serta pemantauan melalui Fleet Management System.

Salah satu studi kasus SUN pada distributor FMCG di Jabodetabek menunjukkan bahwa penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer (km) dengan jam operasional pukul 08.00-17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6% per perjalanan serta menurunkan total biaya kepemilikan dan operasional sekitar 15%. Perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.

"Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur," ujar Director of Mobility SUN, Karina Darmawan.

Selain memperluas elektrifikasi industri, SUN juga memperkuat pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar sebagai bagian dari agenda pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp, yang membuka ruang besar bagi pengembangan PLTS untuk sektor komersial dan industri maupun proyek berskala besar. Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan.