NADIKABAR.COM — Presiden Dewan Bisnis AS-China (US-China Business Council/USCBC) Sean Stein menilai bahwa mempertahankan hubungan ekonomi dan perdagangan yang kuat antara Amerika Serikat (AS) dan China, dua perekonomian "terbesar dan paling dinamis" di dunia, merupakan hal yang sangat penting.
"Selama empat dekade terakhir, China maupun AS memperoleh manfaat yang sangat besar dari hubungan ekonomi yang kuat tersebut," ujar Stein dalam sebuah wawancara dengan Xinhua baru-baru ini.
Dia menekankan bahwa meskipun menghadapi berbagai tantangan, sangat penting untuk tetap mengingat manfaat besar yang dihasilkan dari hubungan tersebut bagi kedua bangsa.
"Mustahil perekonomian masing-masing negara dapat berfungsi sebaik mungkin tanpa hubungan yang kuat dan berkelanjutan dengan negara lainnya," katanya.
Menyusul kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping ke AS, Stein menyoroti pentingnya nilai diplomasi tingkat kepala negara.
Bagi sebagian besar perusahaan AS, ukuran pasar China bukan satu-satunya alasan untuk tetap beroperasi di negara itu.
"Jumlah inovasi yang sangat besar" di China juga menjadi faktor penting lainnya," ujar Stein, seraya menyebut China sebagai salah satu tempat paling inovatif di dunia.
"Dulu, masa depan mungkin lebih sering dibentuk di Jepang, AS, atau Eropa. Namun, kini semakin banyak bidang yang menunjukkan bahwa masa depan sedang diciptakan di China. Jika Anda ingin melihat masa depan, satu-satunya tempat untuk menyaksikan hal itu adalah dengan berada di sini (China)," katanya.
Stein meyakini bahwa penting bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mempertahankan keberadaan mereka di China guna melakukan penelitian dan pengembangan mereka sendiri.
"Ada begitu banyak inovasi yang sedang terjadi di China, dan penting untuk berada di lapangan guna melihat dan memahami inovasi tersebut, serta memanfaatkan kualitas tinggi dari para pekerja dan penelitian China," katanya.
Stein mengungkapkan bahwa di sektor ilmu hayati, misalnya, inovasi di Tiongkok sedang menciptakan banyak peluang baru bagi kerja sama AS-China, dengan banyak inovasi emerging di berbagai bidang seperti penemuan obat dan pengobatan kanker.
"Dalam banyak kasus, perusahaan-perusahaan China yang unggul dalam mengidentifikasi molekul-molekul potensial yang dapat digunakan dalam pengobatan atau obat baru belum memiliki cukup pengalaman untuk memahami cara melakukan uji klinis, cara memperoleh persetujuan global untuk obat-obatan baru, atau cara meningkatkan skala produksi, sehingga hal tersebut menciptakan kemitraan yang sangat alami antara sejumlah perusahaan yang sedang berkembang di Tiongkok dan sejumlah perusahaan mapan di tingkat global," ujarnya.
Pada saat yang sama, Presiden USCBC menuturkan bahwa perusahaan-perusahaan asing yang berinvestasi di China secara aktif mencari mitra-mitra China yang dapat membantu melengkapi sejumlah kekurangan mereka.
Stein menggambarkan hal ini sebagai kisah dari perkembangan perusahaan-perusahaan China, yang menjadi setara dengan perusahaan-perusahaan asing, dan dengan bekerja sama, mereka dapat menjadi lebih kompetitif, gesit, serta sukses.
Didirikan pada 1973, USCBC menyebut dirinya sebagai asosiasi swasta, nonpartisan, dan nirlaba perwakilan sekitar 270 perusahaan AS yang menjalankan bisnis di China, termasuk sebagian besar perusahaan AS terbesar yang beroperasi di sana.
Ke depannya, Stein menyoroti bahwa mayoritas perusahaan AS tetap optimis terhadap prospek mereka di China selama lima tahun ke depan, yang menunjukkan bahwa mereka tidak berencana meninggalkan pasar Tiongkok. Sementara itu menurut dia, lebih dari separuh perusahaan anggota USCBC berniat untuk terus berinvestasi di Tiongkok tahun ini.
"Menurut saya, hal itu juga merupakan bentuk kepercayaan terhadap pentingnya hubungan ekonomi sekaligus menunjukkan optimisme terhadap masa depan, tidak hanya hubungan AS-China, tetapi juga China dan ekonominya sendiri," ujar Stein.