Ia mencontohkan pengembangan potensi masyarakat di kawasan pesisir utara Bangkalan yang dapat diperkuat melalui riset dan hilirisasi. Potensi komoditas pertanian dan sumber daya lokal, dapat dikembangkan menjadi bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kebutuhan industri.
Selaras dengan itu, Ketua ICMI Jawa Timur Pitono Nugroho menempatkan ICMI sebagai kolaborator yang berperan memastikan berbagai unsur dalam ekosistem pembangunan dapat bergerak bersama.
Menurutnya, ICMI tidak berada pada posisi sebagai operator seluruh program, melainkan membantu membangun koneksi dan memastikan kolaborasi antar-aktor berjalan.
"ICMI itu kolaborator. Kami ingin memastikan ekosistemnya berjalan, bukan sekadar mengejar banyak program. Yang penting adalah bagaimana gagasan dan inovasi benar-benar menghasilkan dampak,” ujar Pitono.
Ia menekankan pentingnya inovasi dalam pembangunan daerah. Pembangunan perlu memiliki arah yang terukur, sehingga kemajuan yang dicapai dapat diketahui, termasuk bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat hingga tingkat desa.
Dalam konteks industrialisasi, Pitono mengingatkan agar pembangunan kawasan industri tidak berhenti pada perubahan fisik wilayah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat Bangkalan. Karena itu, pembangunan perlu disiapkan melalui ekosistem yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Melalui MoU bersama ICMI Orda Bangkalan, UTM membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk menghubungkan riset, inovasi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Masing-masing pihak diharapkan dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya, sehingga agenda pembangunan Madura tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak menuju program yang terukur dan memberikan manfaat.