NADIKABAR.COM — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) Bangkalan memperkuat kolaborasi dengan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) setempat untuk mendorong pembangunan Madura yang bertumpu pada riset, inovasi, penguatan sumber daya manusia, serta industrialisasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UTM dan ICMI Orda Bangkalan yang dirangkai dengan diskusi publik mengenai dukungan infrastruktur pelabuhan untuk industrialisasi Madura, ketahanan pangan, dan pengembangan industri di Madura.

"Kerja sama ini menjadi ruang untuk mempertemukan kekuatan perguruan tinggi dengan jejaring cendekiawan dan pemangku kepentingan daerah dalam merumuskan langkah pembangunan yang lebih terarah," kata Rektor UTM Bangkalan Prof Safi' dalam keterangan tertulis yang diterima di Bangkalan, Selasa.

Melalui kerja sama ini, UTM menegaskan siap menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mendorong percepatan pembangunan di Kabupaten Bangkalan secara khusus dan Pulau Madura secara umum.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya keilmuan yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjawab persoalan pembangunan secara lebih berbasis data dan kajian.

"UTM selalu siap berkolaborasi untuk mengembangkan Kabupaten Bangkalan dari berbagai aspek, baik pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat. Apa yang dibutuhkan daerah dapat disampaikan kepada UTM, dan sepanjang memiliki keahlian yang relevan, akan kami perbantukan," ujar Safi’.

Ia mengatakan pembangunan industrialisasi di Madura perlu dikawal secara serius sejak tahap perencanaan. Industri yang dikembangkan harus melalui kajian komprehensif, ramah lingkungan, serta memiliki orientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan keterlibatan tenaga kerja lokal.

"Kita ingin industri yang masuk ke Madura benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kajiannya harus komprehensif, ramah lingkungan, dan memberikan ruang yang besar bagi sumber daya manusia daerah," katanya.

Safi’ menekankan pentingnya menghubungkan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat.

UTM, kata dia, memiliki berbagai potensi riset yang berbasis pada kekuatan lokal, tetapi hilirisasi hingga produksi dalam skala besar membutuhkan keterlibatan dunia industri dan pemerintah daerah.

"Kampus memiliki batas pada pelaksanaan tridharma. Karena itu, riset dan inovasi perlu dipertemukan dengan pemerintah dan industri agar hasilnya dapat diterapkan dan manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat," ujar Safi’.

Sementara itu, Ketua ICMI Bangkalan Abdul Azis Jakfar mengatakan kerja sama dengan UTM diarahkan untuk mendorong gagasan pembangunan yang bertumpu pada pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, riset dan inovasi perlu didorong hingga tahap hilirisasi dan komersialisasi agar mampu menjadi instrumen peningkatan kesejahteraan.

"Riset inovasi harus diupayakan untuk dihilirkan, dikomersialisasikan, dan dijadikan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Dari siklus itulah kesejahteraan masyarakat dapat dibangun," katanya.

Ia mencontohkan pengembangan potensi masyarakat di kawasan pesisir utara Bangkalan yang dapat diperkuat melalui riset dan hilirisasi. Potensi komoditas pertanian dan sumber daya lokal, dapat dikembangkan menjadi bagian dari agenda pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kebutuhan industri.

Selaras dengan itu, Ketua ICMI Jawa Timur Pitono Nugroho menempatkan ICMI sebagai kolaborator yang berperan memastikan berbagai unsur dalam ekosistem pembangunan dapat bergerak bersama.

Menurutnya, ICMI tidak berada pada posisi sebagai operator seluruh program, melainkan membantu membangun koneksi dan memastikan kolaborasi antar-aktor berjalan.

"ICMI itu kolaborator. Kami ingin memastikan ekosistemnya berjalan, bukan sekadar mengejar banyak program. Yang penting adalah bagaimana gagasan dan inovasi benar-benar menghasilkan dampak,” ujar Pitono.

Ia menekankan pentingnya inovasi dalam pembangunan daerah. Pembangunan perlu memiliki arah yang terukur, sehingga kemajuan yang dicapai dapat diketahui, termasuk bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat hingga tingkat desa.

Dalam konteks industrialisasi, Pitono mengingatkan agar pembangunan kawasan industri tidak berhenti pada perubahan fisik wilayah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat Bangkalan. Karena itu, pembangunan perlu disiapkan melalui ekosistem yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Melalui MoU bersama ICMI Orda Bangkalan, UTM membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk menghubungkan riset, inovasi, pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Masing-masing pihak diharapkan dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya, sehingga agenda pembangunan Madura tidak berhenti pada wacana, tetapi bergerak menuju program yang terukur dan memberikan manfaat.