NADIKABAR.COM — Vietnam dan empat negara Eropa menandatangani perjanjian perdagangan bebas di Hanoi pada Minggu (18/10).
Kesepakatan itu diumumkan oleh pemerintah Vietnam dan Norwegia.
Kementerian Perdagangan Vietnam menyatakan, perjanjian tersebut ditandatangani bersama Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA), yang terdiri dari Norwegia, Swis, Islandia, dan Liechtenstein. Keempat negara itu bukan anggota Uni Eropa (UE).
Perundingan resmi antara Vietnam dan EFTA dimulai pada 2012. Namun, pembicaraan terhenti pada 2018 dan baru dilanjutkan kembali tahun lalu.
Perjanjian antara EFTA dan Vietnam, yaitu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, dapat menghapus atau mengurangi bea masuk, termasuk untuk impor produk industri, perikanan, dan pertanian.
Pemerintah Norwegia menyatakan, sekitar separuh ekspor negaranya ke Vietnam akan bebas bea masuk. Dalam tujuh tahun, lebih dari 98 persen ekspor Norwegia ke Vietnam ditargetkan bebas bea masuk.
Menurut para pihak yang menandatangani perjanjian, kesepakatan tersebut juga mencakup perdagangan barang dan jasa, hak kekayaan intelektual, langkah-langkah perdagangan, serta pembangunan berkelanjutan.
EFTA mencatat, nilai perdagangan antara asosiasi tersebut dan Vietnam mencapai 5,4 miliar dolar AS (sekitar 97,31 triliun Rupiah) pada tahun lalu.
Pemerintah Vietnam menyatakan, kesepakatan tersebut menunjukkan tekad kedua pihak untuk "memperkuat sistem perdagangan berbasis aturan di tengah ketidakpastian perekonomian global". Pemerintah juga berharap kesepakatan itu dapat membantu Vietnam "memperluas dan mendiversifikasi pasar impor dan ekspornya" serta "memperkuat keterlibatannya dalam rantai nilai global".
Perjanjian ini menyusul kebijakan tarif besar-besaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengganggu perdagangan global. Kebijakan tersebut membuat ekspor Vietnam ke AS dikenai tarif tinggi, sementara negosiasi antara kedua negara masih berlangsung.
Sejumlah pakar menilai kesepakatan baru ini mencerminkan upaya bersama untuk mendiversifikasi hubungan dagang dan mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama.
"Ketika AS menekan negara-negara Eropa dalam perdagangan, kesepakatan ini menjadi upaya bersama untuk memperkuat kemandirian strategis melalui integrasi ekonomi. Kedua pihak juga berupaya mencari mitra alternatif, alih-alih bergantung sepenuhnya pada mitra dagang terbesar mereka," kata pakar sejarah dan politik, Do Dinh Lam Khang, kepada AFP.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris