"Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut," sambungnya.
Melihat informasi yang cepat hadir di media sosial, Amien meminta agar masyarakat lebih kritis dalam menyikapi informasi tersebut. Ia menilai, informasi yang belum melalui proses verifikasi ilmiah tidak seharusnya menjadi alasan untuk menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Walaupun belum terverifikasi aktif, Amien berpesan pemerintah daerah tetap perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana gempa. Ia memberi saran langsung untuk pemerintah kota (Pemkot) Surabaya.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menyiapkan alat pendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah. Alat ini menjadi upaya pemantauan dan mitigasi.
Selain dipantau secara berkala, Pemkot perlu menyusun peta kawasan rawan gempa yang akan berguna untuk menentukan kebujakan pembangunan. Jika bangunan tetap dibangun di kawasan yang berisiko, bangunan tersebut perlu memenuhi standar tahan gempa, sehingga potensi dampak bisa ditekan.
"Langkah mitigasi tersebut menjadi penting agar informasi mengenai patahan tidak berhenti pada kekhawatiran, tetapi mendorong kesiapan menghadapi risiko bencana," tegasnya.
Terkait kondisi patahan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika sudah beri penjelasan. BMKG menegaskan tidak ada sesar yang berdiri sendiri, termasuk yang ada di Surabaya.