NADIKABAR.COM — Video yang menyebut adanya sesar atau patahan aktif baru di Surabaya viral di media sosial. Dalam video tersebut disebutkan sesar Surabaya-Madura melintasi wilayah Bangkalan, Surabaya hingga Sidoarjo.
Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan, Suwarto, mengatakan, data keberadaan sesar di wilayah Surabaya dan Madura sebenarnya merupakan data lama yang sudah terpetakan sejak 2017.
"Sebenarnya kalau videonya itu mungkin dia reupload ya. Maksudnya dia buat baru, tetapi data-data yang dipakai itu sebenarnya data lama. Sesar yang ada itu sudah lama terpetakan, jadi dari tahun 2017 itu sudah dirilis," kata Suwarto saat dihubungi NadiKabar, Rabu (9/9/2026).
"Tapi yang bikin mungkin salah paham, dia membuat kontennya itu kok sesar baru gitu loh. Ini yang mungkin menjadi salah paham atau salah pengertian ya, karena itu sesarnya sudah lama dalam peta," tambahnya.
Suwarto menjelaskan, untuk wilayah Surabaya dan Madura memang terdapat beberapa sesar. Di Surabaya, terdapat Sesar Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, dengan segmen seperti Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Sementara di wilayah Madura, keberadaan sesar masuk dalam sistem Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).
"Dalam sesar RMKS itu terbagi menjadi beberapa segmen. Di Bangkalan itu ada Sesar Socah, Sesar Drajat, dan Sesar Ketapang. Nah, itu sebenarnya sudah dipetakan dari tahun 2018. Jadi dia sebenarnya menyampaikan data yang ada, tapi salah pahamnya dia menyatakan sesar baru, itu yang enggak pas," jelasnya.
Menurutnya, terkait visual peta, peta resmi dari Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) tidak pernah menunjukkan adanya sesar yang menyambung langsung dari Surabaya ke Bangkalan.
"Kalau di sumber Pusgen itu enggak ada yang menerus dari Surabaya sampai Madura. Karena sesarnya berbeda. Kalau di Surabaya itu segmen Sesar Kendeng, kalau di Madura itu RMKS, jadi terpisah. Cuma kalau saya lihat videonya kok dia menerus gitu, nah itu enggak tahu sumbernya dari mana dia mengambil," tegasnya.
Suwarto memastikan, hingga 2026 ini tidak ada pembaruan terkait temuan sesar baru. Pemerintah masih mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang dirilis oleh Pusgen di bawah koordinasi kementerian terkait, BMKG, Badan Geologi, serta para akademisi.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dan memahami bahwa pemetaan sesar bertujuan untuk langkah mitigasi bencana serta penataan tata ruang daerah.
"Tujuannya lebih mengarah ke mitigasi dan penataan tata ruang untuk pembangunan. Jadi disampaikan ke pemda, 'Ini loh wilayah Bapak/Ibu ada potensi sumber gempanya, jadi kalau mau bangun harus sesuai standar bangunan tahan gempa.' Jadi sebenarnya itu sudah lama, tapi karena masyarakat baru perhatian ke situ, ada yang memanfaatkan jadi heboh lagi," pungkasnya.