"Tiket yang diundi adalah semua tiket dari seluruh tiket pertandingan Turnamen Cap Gawen Cup dari awal sampai akhir selesai acara," ujarnya.
Siswo juga menjelaskan harga tiket yang dijual panitia. Tiket babak penyisihan dibanderol Rp 10 ribu, sedangkan tiket babak 16 besar Rp 15 ribu dan tiket final Rp 30 ribu.
"Saat pengundian tidak ada rekayasa. Kalau toh ada rekayasa pasti akan diprotes para penonton yang saat itu menyaksikan. Hingga pemberian hadiah, tidak ada yang protes. Dan penerima hadiah juga warga Batang, bukan kerabat atau saudara dari panitia," ucapnya.
Di lokasi yang sama, Johan (50) panitia lainnya yang juga memegang box berisi karcis atau kulon undian, menjelaskan semua undian telah dilakukan sesuai mekanisme yang ada.
Ia menceritakan dari pengumpulan karcis dari babak-babak sebelumnya juga disaksikan bersama. Karena banyaknya kupon, jari tangannya sempat kram karena harus menahan cukup berat kupon atau karcis.
"Di saat itu tongnya mau jatuh, di saat itu juga jari saya tergelincir. Bahkan ada salah satunya panitia yang ingin menolongnya," kata Johan.
Dia membantah gerakan jarinya tersebut sebagai upaya mengarahkan Pak Lurah untuk mengambil kupon tertentu.
"Ndak, ndak. Jadi tidak mengarahkan salah satunya untuk Pak Lurah mengambil tiket. Bahkan Pak Lurah pun tidak tahu, tidak lihat kalau saya itu jarinya menuju ke tempat tiket," jelasnya.
Dia menerangkan kupon berasal dari beberapa dus yang kemudian dikumpulkan dan ditumpahkan ke dalam wadah undian. Proses pemindahan tersebut, menurut Johan, disaksikan oleh sejumlah panitia.
"Kurang lebih ada enam atau tujuh, delapan dus. Itu disaksikan karena di situ panitia juga banyak," katanya.
Johan menyebut setiap dus berisi tiket pertandingan yang kemudian dipindahkan ke wadah undian. Setelah semua tiket dimasukkan, wadah tersebut ditutup.