Dalam laman kitabisa.com yang dilihat NadiKabar, penggalangan donasi itu sudah dihentikan per hari Jumat ini dengan total donasi yang diterima sebesar Rp4.107.000. Lalu jumlah 600 KK dalam narasi juga sudah berubah menjadi 60 KK.
"Sekarang penggalangan dana ditutup, karena saya diminta klarifikasi dulu ke pihak desa soal beberapa kekeliruan. Kalau sudah diizinkan, ya dimulai lagi, tapi itu juga gergantung pihak desa mengizinkan atau enggak. Kalau sebelumnya kami hanya sebatas izin ke RT dan RW, nanti mereka yang melanjutkan kesana (pihak desa)," kata Deny.
Berdasarkan penelusuran NadiKabar ke Kampung Cijambe, kondisi krisis air bersih yang dialami warga tak seburuk yang dinarasikan. Sumber air yang disebut menjadi satu-satunya harapan warga, ternyata sudah lama tidak digunakan karena diutamakan untuk pengairan sawah.
Kepala Desa Karanganyar, Asep Hermawan, juga geram dengan informasi keliru yang viral di media sosial. Menurutnya, poin yang disampaikan pemohon donasi sebagai pihak yang meramaikan kondisi krisis air bersih berkepanjangan sebagai pembohongan publik.
"Enggak betul sama sekali, apalagi sampai 600 KK kesulitan air bersih. Warga di kampung itu kan ada 2 RW, itu kurang dari 600 KK. Terus informasi 20 tahun kesulitan air bersih darimana? Di sini warga pakai sumur bor," kata Asep.