NADIKABAR.COM — Serial terbaru Marvel, VisionQuest, ternyata menyimpan banyak istilah teknologi komputer dan kecerdasan buatan (AI) yang menarik perhatian. Bukan hanya lewat karakter robot dan superkomputer, istilah seperti microchip, firewall, enkripsi, hingga ekstraksi data bahkan muncul sebagai nama makanan di rumah Vision.
Dua episode perdana VisionQuest yang tayang di Disney+ pada 13 Oktober 2026 memperlihatkan kehidupan baru Vision (Paul Bettany) setelah peristiwa WandaVision. Ia berusaha memahami identitas dan ingatannya, sekaligus mencari tahu apa artinya menjadi manusia.
Menariknya, Marvel menggambarkan proses tersebut melalui sebuah rumah virtual di dalam pikiran Vision. Tempat yang disebut Mind Place atau MindSpace ini menjadi representasi dunia digital yang dibangun dari kode dan kekuatan pemrosesan komputer.
Di dalamnya, Vision hidup bersama sejumlah asisten AI peninggalan Tony Stark atau Iron Man. Setiap AI memiliki kepribadian dan tugas berbeda, layaknya sejumlah program yang bekerja bersama dalam sebuah sistem komputer.
Namun, yang paling mencuri perhatian justru berbagai detail kecil di rumah tersebut. Marvel menyelipkan permainan kata yang menggabungkan istilah teknologi dengan produk kebutuhan sehari-hari.
Dalam salah satu adegan, terlihat sejumlah produk makanan dengan nama unik yang sebenarnya merujuk pada teknologi komputer.
Ada Microchips Command & Option, camilan yang namanya menggabungkan microchip dengan tombol Command dan Option pada keyboard komputer Mac.
Microchip sendiri merupakan komponen semikonduktor berisi rangkaian elektronik yang digunakan untuk menjalankan berbagai fungsi pada komputer, smartphone, hingga perangkat AI.
Kemudian ada GeoFence Peas atau kacang polong GeoFence. Istilah geofencing merujuk pada teknologi yang memungkinkan sistem membuat batas wilayah virtual menggunakan data lokasi, seperti GPS.
Teknologi ini digunakan dalam berbagai layanan, mulai dari pelacakan kendaraan, otomatisasi rumah pintar, hingga notifikasi ketika pengguna memasuki lokasi tertentu.
Produk lainnya bernama Visimite Data Extract, permainan kata yang menggabungkan nama Vision dengan data extraction atau ekstraksi data. Dalam dunia komputer, ekstraksi data merupakan proses mengambil informasi dari sumber tertentu untuk kemudian diproses atau dianalisis.
Ada pula Firewall Roasted Tomatoes atau tomat panggang Firewall. Nama ini merujuk pada firewall, sistem keamanan yang bertugas memantau dan mengendalikan lalu lintas jaringan berdasarkan aturan tertentu.
Marvel juga menampilkan Vibranium Foil, aluminium foil versi dunia Vision yang menggunakan nama vibranium, logam fiksi Marvel yang menjadi bagian dari tubuh sang superhero.
Selain itu, terdapat susu InfinaDairy, penyedot debu Vis-o-matic, serta sejumlah produk lain yang menggunakan istilah komputer maupun referensi Marvel.
Detail tersebut membuat rumah Vision terasa seperti lingkungan manusia biasa, tetapi dengan seluruh benda yang disesuaikan dengan identitasnya sebagai makhluk digital.
Permainan istilah komputer tidak berhenti pada makanan. Marvel juga menghadirkan kembali sejumlah AI yang sebelumnya muncul dalam film-film Iron Man dan Avengers.
Menariknya, AI tersebut tidak lagi sekadar terdengar sebagai suara komputer atau tampil sebagai robot, melainkan memiliki wujud manusia.
J.A.R.V.I.S., yang diperankan James D'Arcy, bertugas menangani keamanan, pengelolaan rumah, dan enkripsi. Dalam dunia teknologi, enkripsi merupakan metode mengubah informasi menjadi bentuk yang tidak dapat dibaca tanpa kunci yang sesuai.
Kemudian ada F.R.I.D.A.Y., diperankan Orla Brady, yang menangani kemampuan bersosialisasi, humor, dan operasi taktis Vision.
Sementara E.D.I.T.H., diperankan Emily Hampshire, bertanggung jawab atas hiburan, teori permainan, dan sistem persenjataan.
Dua robot bengkel Tony Stark, D.U.M.-E. dan U, juga hadir sebagai manusia dengan tugas pemeliharaan sistem. Keduanya menangani fungsi seperti kendali mekanis, pemadaman api, defragmentasi, dan analisis video.
Tidak ketinggalan Ultron, AI supercerdas yang kembali diperankan James Spader. Berbeda dari asisten lainnya, Ultron ditempatkan dalam ruangan terpisah karena dianggap berbahaya.
Penggambaran tersebut memiliki kemiripan konsep dengan sistem AI agent modern, yakni program AI yang dirancang untuk menjalankan tugas tertentu, menggunakan alat, dan berkoordinasi dengan sistem lain.
Meski demikian, kemampuan AI masa kini masih jauh dari kesadaran dan kemandirian seperti yang ditampilkan dalam Vision Quest.
Salah satu adegan menarik lainnya memperlihatkan J.A.R.V.I.S. menemukan kebocoran di rumah Vision. Namun, kebocoran tersebut bukan sekadar masalah bangunan.
Dalam dunia digital Vision, kebocoran itu menggambarkan gangguan keamanan dan kemungkinan keluarnya informasi dari sistem.
Konsep tersebut mengingatkan pada data leak atau kebocoran data, ketika informasi yang seharusnya terlindungi justru terekspos kepada pihak yang tidak berwenang.
Keberadaan Ultron dalam ruangan terpisah juga dapat dianalogikan dengan sandboxing atau isolasi sistem. Teknik ini digunakan dalam keamanan komputer untuk menjalankan program di lingkungan terbatas agar tidak membahayakan sistem utama.
Menariknya, meskipun memiliki sistem keamanan yang dijaga J.A.R.V.I.S., dunia digital Vision tetap menghadapi ancaman dari dalam.
Hal ini menunjukkan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap memiliki potensi kerentanan, terutama ketika sebuah sistem memberikan akses kepada program yang tidak sepenuhnya dapat dipercaya.
Konsep rumah digital yang dihuni banyak AI sebenarnya memiliki kemiripan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Sistem AI modern sudah mampu menjalankan tugas khusus, berinteraksi menggunakan bahasa alami, menganalisis data, hingga bekerja sama melalui pendekatan multi-agent AI.
Superkomputer juga telah digunakan untuk melatih model AI berskala besar dan menjalankan simulasi ilmiah yang membutuhkan kemampuan komputasi tinggi.
Namun, kemampuan menciptakan dunia virtual bukan berarti AI telah memiliki kesadaran seperti manusia.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang diterima secara luas bahwa sistem AI memiliki pengalaman subjektif atau kesadaran sebagaimana digambarkan pada karakter Vision.
Di sinilah Vision Quest menjadi menarik. Marvel tidak hanya menggunakan teknologi sebagai alat pendukung cerita superhero, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan hubungan antara kecerdasan, ingatan, identitas, dan kemanusiaan.
Lewat makanan bernama Firewall hingga kumpulan AI yang tinggal dalam sebuah rumah virtual, Vision Quest berhasil mengubah istilah komputer yang rumit menjadi bagian dari cerita yang menghibur sekaligus mengundang rasa penasaran.