Ketua MAS Lalu Sajim Sastrawan menyampaikan berkurangnya penggunaan Bahasa Sasak dalam kehidupan sehari-hari berpotensi menghilangkan kekayaan kosakata daerah.

Dengan jumlah penutur yang diperkirakan mencapai sekitar 2,2 juta jiwa, ia menilai pelestarian Bahasa Sasak memerlukan upaya berkelanjutan melalui keluarga, lembaga pendidikan, dan lingkungan masyarakat.

"Bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi kami berikhtiar menjadikan Bahasa Sasak sebagai bahasa ilmu pengetahuan, bahkan bahasa yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi," pungkas Sajim.