Sebanyak 34 diorama asli di Museum Kesaktian Pancasila tetap dipertahankan sebagai bagian utama narasi sejarah. Koleksi tersebut berdampingan dengan 15 diorama di Museum Paseban yang merangkum peristiwa penting terkait Gerakan 30 September 1965. Setelah pembenahan, ruang pamer Museum Kesaktian Pancasila kini terbagi menjadi tujuh area di lantai satu dan empat area di lantai dua.
Mengusung konsep in-situ museum, alur penelusuran dimulai dari gedung Museum Kesaktian Pancasila sebelum pengunjung diarahkan menuju sejumlah situs bersejarah di kawasan Lubang Buaya.
Di lantai dasar gedung utama, pengunjung disambut oleh instalasi relief 3D Garuda Pancasila yang mengajak mereka memahami proses lahir dan dirumuskannya Pancasila oleh para pendiri bangsa, dinamika komunisme global, hingga sejarah masuknya gerakan tersebut ke tanah air. Informasi tersebut disajikan melalui media digital interaktif yang memadukan narasi teks, visual, dan audio.
Seluruh narasi dan materi pameran disusun berdasarkan penelusuran dokumen, arsip, surat kabar, buku, serta berbagai referensi sejarah yang telah tervalidasi. Penyusunan dilakukan melalui kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Pusat Sejarah TNI sebagai upaya menyajikan informasi sejarah yang akurat sekaligus lebih komunikatif bagi masyarakat.
Fadli juga menyoroti penambahan fasilitas baru dalam revitalisasi. Fasilitas baru tersebut adalah Ruang Relik yang berlokasi di area belakang Paseban.
Ruang tersebut didedikasikan khusus untuk memamerkan barang-barang peninggalan asli para Pahlawan Revolusi, seperti berbagai baju yang dipakai oleh para jenderal, jam tangan, dan juga memorabilia lain yang ada di sana.