NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie) mengungkap data terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang mengonfirmasi perundungan atau bullying di sekolah-sekolah Indonesia bukan lagi sekadar kesan subjektif atau kasus viral yang kebetulan mencuat.
Sebanyak 24% siswa Indonesia melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk perundungan, beberapa kali dalam sebulan. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang tercatat sebanyak 20%.
Hal itu menuntut respons yang sistemik, bukan sekadar imbauan moral. Rerie menegaskan upaya pencegahan perundungan tidak cukup dengan sosialisasi antikekerasan semata.
"Upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan tidak cukup dengan sosialisasi antikekerasan semata. Lebih dari itu, harus aktif dibangun sikap dan budaya untuk saling toleransi di sekolah dan masyarakat dalam berinteraksi pada keseharian," kata Rerie, dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).
Data PISA 2025 juga mencatat bahwa prevalensi perundungan di Indonesia meningkat dibandingkan dengan data PISA 2022. Khusus untuk perundungan siber, 7% siswa Indonesia melaporkan bahwa informasi tentang diri mereka yang bersifat mengganggu, dipublikasikan secara daring tanpa persetujuan mereka.