Namun, tingginya minat masyarakat belum diimbangi dengan ketersediaan bahan bacaan. Dalam survei yang sama, 58% TBM menilai koleksi bukunya belum memadai, sedangkan hanya 18% yang menyatakan koleksinya memadai.
Rerie menilai, kesenjangan antara jumlah pembaca dan ketersediaan koleksi harus segera dijawab dengan kebijakan yang terencana.
"Minat membaca itu ada. Masyarakat datang dan anak-anak membutuhkan bahan bacaan. Persoalannya, ruang baca yang mereka datangi tidak memiliki koleksi yang cukup dan terus diperbarui," tuturnya.
Ia mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah membangun skema dukungan yang berkelanjutan bagi TBM. Dukungan tersebut tidak hanya berupa pengadaan buku, tetapi juga peningkatan kapasitas pengelola, penyediaan ruang yang layak, serta program literasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki kewenangan dan sumber pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat TBM. Karena itu, dukungan terhadap TBM tidak seharusnya hanya bergantung pada program pemerintah pusat.
"Pemerintah daerah harus memandang TBM sebagai bagian dari ekosistem pendidikan dan pembangunan manusia di daerahnya, bukan sekadar kegiatan sukarela masyarakat," tegasnya.