Ia mengatakan, peluang investasi energi terbarukan di Indonesia terbuka dalam skala besar. Rencana penyediaan tenaga listrik 2025 sampai 2034 membawa kebutuhan investasi sekitar US$180 miliar, dengan sekitar 73 persen kapasitas pembangkit baru terbuka bagi independent power producers. Kondisi ini memberikan ruang yang luas bagi pengembang swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan sistem kelistrikan Indonesia.
Dari sisi sumber daya, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.600 GW, termasuk sekitar 3.286 GW potensi tenaga surya. Sementara kapasitas energi terbarukan yang telah dioptimalkan baru berada di kisaran 7 GW. Eddy melihat kesenjangan tersebut sebagai ruang investasi yang sangat besar.
"Gap ini merupakan peluang yang besar. Fokus kita sekarang adalah memperkuat koordinasi, memberikan kejelasan regulasi, dan menjaga konsistensi kebijakan," kata Eddy.
Menurutnya, percepatan tersebut membutuhkan tiga agenda utama. Pertama, membuka ruang yang lebih besar bagi modal swasta. Kedua, membangun kerangka regulasi yang mendukung corporate offtake atau pembelian listrik terbarukan oleh perusahaan. Ketiga, memperkuat dan memodernisasi jaringan listrik bersama PLN agar mampu mengakomodasi pertumbuhan pembangkit energi terbarukan.