Eddy menilai agenda tersebut memiliki dampak langsung terhadap perekonomian. Implementasi penuh rencana penyediaan tenaga listrik diperkirakan dapat menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs dan memberikan tambahan sekitar 0,1 sampai 0,7 persen terhadap pertumbuhan PDB tahunan. Indonesia juga memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral kritis yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi.

Dalam forum tersebut, ia menjelaskan bahwa kemitraan internasional untuk mempercepat energi terbarukan Indonesia perlu diarahkan pada tiga kebutuhan konkret, yaitu modal, teknologi dan manufaktur, serta permintaan listrik.

"Modal diperlukan untuk membiayai proyek dalam skala yang besar. Teknologi dan manufaktur dibutuhkan agar semakin banyak komponen dan kapasitas produksi yang dibangun di Indonesia. Sementara komitmen permintaan melalui kontrak listrik jangka panjang akan memperkuat kelayakan pembiayaan proyek," tutup Eddy.