Selain itu, Rerie menekankan pentingnya menempatkan perempuan dan generasi muda sebagai bagian utama dalam penyelesaian berbagai persoalan global.
Ia menilai upaya membangun stabilitas tidak akan berjalan utuh apabila mengabaikan peran dan keterlibatan perempuan serta generasi muda.
Dalam pidatonya, Rerie juga mengingatkan hubungan historis Indonesia dan Turki yang telah terjalin sejak abad ke-16 melalui perdagangan, agama, dan solidaritas.
Menurut dia, hubungan kedua negara semakin erat melalui kepedulian dan bantuan saat menghadapi bencana, seperti tsunami Aceh pada 2004 dan gempa bumi di Turki.
"Persahabatan kita tidak dibangun di ruang konferensi, tetapi dibangun pada saat-saat ketika satu bangsa berdiri di samping bangsa lain dalam duka," katanya.
Pada akhir pidatonya, Rerie mengajak seluruh peserta forum untuk memimpin dengan tidak hanya mengandalkan gagasan bersama, tetapi juga membangun harapan dan tujuan bersama.