NADIKABAR.COM β€” Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong penguatan dialog dan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat sipil untuk menghadapi berbagai tantangan global dalam KTT Bosphorus ke-17 di Istanbul, Turki, Kamis.

β€œStabilitas bukanlah ketiadaan peluang, melainkan kehadiran kepercayaan di tengah perubahan itu sendiri,” kata Lestari dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.

Dalam pidatonya, Lestari mengajak masyarakat dunia menjadikan dialog sebagai jalan utama untuk menyelesaikan perbedaan. Menurut dia, stabilitas yang dibangun melalui kepercayaan akan lebih kuat dibandingkan stabilitas yang dipaksakan.

KTT Bosphorus ke-17 tersebut dihadiri para pemimpin dan pakar dari berbagai negara yang membahas sejumlah isu strategis global.

Rerie, sapaan akrab Lestari, menekankan bahwa perbedaan tidak seharusnya diselesaikan melalui dominasi suara pihak tertentu, tetapi melalui musyawarah hingga mencapai kesepakatan bersama.

Ia merujuk pada tradisi musyawarah di MPR serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menempatkan keberagaman sebagai sumber kekuatan bangsa, bukan ancaman.

Dalam forum tersebut, Rerie memaparkan tiga pilar kolaborasi yang dinilainya penting, yakni pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil.

Menurut dia, pemerintah, termasuk parlemen, berperan menghadirkan kepemimpinan publik dan kebijakan yang melindungi seluruh pihak.

Sementara itu, dunia usaha berkontribusi melalui sumber daya, inovasi, dan peluang ekonomi. Adapun masyarakat sipil berperan memperkuat partisipasi komunitas serta membangun kepercayaan antara lembaga dan masyarakat.

"Ketiga sektor ini dapat membantu masyarakat dan memberikan masa depan yang stabil dan damai bagi rakyat," katanya.

Anggota Komisi X DPR RI itu juga menyoroti pentingnya pendidikan sebagai investasi untuk membangun perdamaian.

Menurut Rerie, konflik dapat dicegah melalui pendidikan di ruang kelas sebelum berkembang menjadi persoalan yang membutuhkan perundingan.

Ia juga mendorong penguatan kerja sama antarnegara dalam ketahanan menghadapi bencana, sistem peringatan dini, mitigasi, dan pemulihan.

"Bangsa-bangsa yang berbagi garis patahan yang sama seharusnya juga berbagi kebutuhan yang sama," ujarnya.

Selain itu, Rerie menekankan pentingnya menempatkan perempuan dan generasi muda sebagai bagian utama dalam penyelesaian berbagai persoalan global.

Ia menilai upaya membangun stabilitas tidak akan berjalan utuh apabila mengabaikan peran dan keterlibatan perempuan serta generasi muda.

Dalam pidatonya, Rerie juga mengingatkan hubungan historis Indonesia dan Turki yang telah terjalin sejak abad ke-16 melalui perdagangan, agama, dan solidaritas.

Menurut dia, hubungan kedua negara semakin erat melalui kepedulian dan bantuan saat menghadapi bencana, seperti tsunami Aceh pada 2004 dan gempa bumi di Turki.

"Persahabatan kita tidak dibangun di ruang konferensi, tetapi dibangun pada saat-saat ketika satu bangsa berdiri di samping bangsa lain dalam duka," katanya.

Pada akhir pidatonya, Rerie mengajak seluruh peserta forum untuk memimpin dengan tidak hanya mengandalkan gagasan bersama, tetapi juga membangun harapan dan tujuan bersama.