NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten hari ini. Bahlil mewakili Presiden Prabowo Subianto yang semula dijadwalkan hadir.

"Saya ingin menyampaikan ada salam hangat dari Bapak Presiden, sekiranya Bapak Presiden yang harus hadir sendiri di acara ini. Namun karena ada satu dan lain hal sehingga kami diperintahkan untuk mewakili Bapak Presiden dalam membacakan sambutan. Karena itu Bapak Presiden memohon maaf," ujar Bahlil di awal sambutannya, Rabu (14/10/2026).

Bahlil membacakan teks yang telah disediakan untuk Prabowo. Ia berseloroh dalam membacakannya harus benar-benar sesuai tanpa mengurangi maupun tambahan kata.

"Ini mohon maaf saya harus baca, tidak boleh kurang dan tidak boleh tambah. Nanti kalau saya tambah ada gerakan tambahan, nanti kalau saya kurangi pun pasti akan dicatat," canda Bahlil.

Bahlil kemudian membeberkan ketangguhan perekonomian nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian pada semester I-2026. Ia menyebutkan ekonomi Indonesia berhasil tumbuh positif di angka 5,45%, menjadi salah satu yang terbaik di antara negara-negara G20 dengan tingkat inflasi yang terjaga di bawah 3%.

Selain itu, surplus neraca perdagangan pada periode Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai US$ 7,25 miliar dengan nilai ekspor mencapai US$ 193,6 miliar atau tumbuh US$ 4,74 miliar secara tahunan. Capaian ini harus kita tingkatkan untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

"Saat ini, pemerintah menggalakkan ekspor yang bernilai tambah tinggi dengan hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam Indonesia. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," tambah Bahlil.

Bahlil menerangkan Indonesia membuka kerjasama dengan negara lain dalam mengembangkan peningkatan investasi, transisi energi, serta pengembangan teknologi digital sebagai pondasi ekonomi masa depan Indonesia. Peningkatan akses pasar ke negara-negara tradisional di kawasan Afrika, seperti Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur perlu terus ditingkatkan melalui perjanjian perdagangan bebas agar produk Indonesia mempunyai daya saing.

Ia menekankan setiap perjanjian perdagangan internasional harus konkret dan langsung berdampak pada rakyat. Menurutnya, hasil perjanjian perdagangan bebas yang sudah berlaku harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para eksportir dengan ditopang oleh kemudahan prosedur ekspor.

"Prosedur ekspor jangan berbelit-belit. Pertek-pertek yang mengambat harus segera disimplifikasi untuk kemajuan ekspor. Itu saya tambah sendiri," imbuhnya.

Bahlil menjelaskan, pelaksanaan ajang Trade Expo Indonesia 2026 ini sebagai bentuk kesiapan Indonesia dalam rantai pasok global. Kemudian, ia meminta agar transaksi dalam ajang tersebut melampaui target yang ditetapkan.

"Saya mendapatkan laporan dari Menteri Perdagangan dan tim bahwa kita menargetkan total transaksi Trade Expo Indonesia tahun 2026 sebesar US$ 17,5 miliar. Di 2025 target US$ 16 miliar lebih tapi realisasinya US$ 22,8 miliar. Saya meminta agar target ini bisa melampaui target di 2026," tutur Bahlil.

Dengan semakin kuatnya daya saing produk nasional, perluasan akses pasar, serta antusiasme para pembeli dan mitra dagang internasional, ia berharap dan optimis nilai transaksi yang dicapai pada tahun ini dapat melampaui tahun-tahun sebelumnya. Ada sekitar 16.885 calon pembeli telah terdaftar, termasuk 8.092 pembeli dari luar negeri yang berasal dari 134 negara.

"Saya percaya Trade Expo Indonesia pada tahun ini dapat secara maksimal berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia," pungkasnya.