NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan transformasi energi Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dalam rangka mewujudkan kedaulatan energi nasional.

“Transformasi energi Indonesia berjalan di jalur yang benar untuk menuju kedaulatan energi nasional, nilai tambah dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yuliot dalam Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat malam.

Yuliot memaparkan sejumlah capaian Kementerian ESDM dalam beberapa tahun terakhir. Di bidang minyak dan gas bumi (migas), Yuliot mengatakan pada tahun 2025, Indonesia berhasil melampaui target lifting minyak yang ditetapkan di dalam APBN 2025.

Saat itu, target lifting yang ditetapkan sebesar 605 ribu barel minyak per hari, dan Indonesia bisa merealisasikan lifting minyak sebesar 605,3 ribu barel per hari.

“Ini selama sembilan tahun terakhir ini merupakan capaian yang cukup signifikan,” ucap Yuliot.

Tahun ini, kata dia, pemerintah mendorong peningkatan produksi menjadi 610 ribu barel per hari. Akan tetapi, Yuliot mengatakan dalam realisasinya terdapat kendala-kendala yang menyebabkan target tersebut belum bisa tercapai.

“Tentu ini kami berupaya bersama-sama bagaimana target minimal yang sudah ditetapkan ini bisa kita capai secara bersama-sama,” ucap dia.

Selanjutnya, di bidang energi terbarukan, Yuliot menyampaikan pemerintah berhasil merealisasikan program utamanya, yakni bahan bakar nabati (BBN) biodiesel B50 pada Juli 2026.

Yuliot menyampaikan implementasi B50 menjadi diversifikasi penggunaan minyak bumi sekitar 310 ribu barel per hari. Saat ini, tingkat konsumsi minyak di Indonesia sebesar 1,6 juta barel.

“Tentu atas kekurangan ini kita melakukan pengadaan bahan bakar minyak yang berasal dari impor, baik crude maupun produk yang sudah dilakukan oleh berbagai badan usaha,” kata Yuliot.

Untuk bidang ketenagalistrikan, Yuliot menyebut rasio elektrifikasi nasional sudah mencapai 99,85 persen. Adapun hal terpenting dari elektrifikasi nasional adalah kemampuan pemerintah memperluas jaringan listrik sehingga seluruh desa dapat teraliri dengan listrik.

“Sehingga masyarakat tidak ada yang tidak merasakan bagaimana kemandirian energi, dan juga secara hak masyarakat itu bisa terpenuhi, ini merupakan bagian tanggung jawab negara untuk menyediakan energi bagi masyarakat,” kata Yuliot.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti upaya pemerintah dalam mendorong 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi dengan nilai investasi sekitar Rp618 triliun. Sebagian besar lokasi proyek pun berlokasi di luar Pulau Jawa.

“Kami menyadari bahwa pekerjaan kita masih jauh dari selesai. Kita masih harus berjuang bersama untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor energi, memperbaiki iklim investasi, serta menjawab tantangan pemerataan dan keandalan pasokan energi secara nasional,” kata Yuliot.