NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mendorong kepala desa untuk membangun kepemimpinan yang berdampak, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan III di Universitas Sriwijaya, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu.
Bima dalam keterangan diterima di Jakarta mengatakan kepemimpinan yang berdampak membutuhkan visi dan keberpihakan yang jelas, kemampuan membaca serta menganalisis data, penentuan prioritas yang realistis, dan keterampilan berkolaborasi.
Menurutnya, kepala desa harus mampu memahami kebutuhan masyarakat dan mengarahkan sumber daya untuk menghasilkan program yang memberikan manfaat nyata.
Ia juga mengingatkan agar kepala desa tidak terjebak pada kegiatan seremonial dan rutinitas birokrasi. Anggaran desa harus diprioritaskan untuk pelayanan publik dan program pembangunan yang konkret serta sesuai kebutuhan masyarakat.
Bima turut menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa dan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus dan desa dapat saling belajar melalui pertukaran pengetahuan akademik dan pengalaman praktik di lapangan.
Ia mengharapkan para kepala desa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kembali ke daerah dengan semangat menjadi kepala desa terbaik di Sumatera Selatan.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pemerintahan Desa (Pemdes) Kemendagri Bernhard Eduard Rondonuwu menyampaikan program KDMK dirancang sebagai wahana pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi kepala desa dalam bidang tata kelola pemerintahan desa, transformasi digital, kepemimpinan publik.
Kemudian, inovasi pelayanan, pengelolaan potensi desa, penguatan ekonomi serta pembangunan berbasis data dan bukti (evidence-based policy).
Program itu juga membuka ruang bagi kepala desa untuk membangun jejaring kemitraan dengan perguruan tinggi, praktisi, dan sesama kepala desa dari berbagai daerah.
Pelaksanaannya menggunakan pendekatan kolaboratif melalui pembelajaran akademik, riset, inovasi, praktik lapangan, coaching, mentoring, dan transformasi digital.
KDMK menjadi salah satu instrumen strategis Ditjen Bina Pemerintahan Desa dalam mendukung terwujudnya Pemerintahan Desa Berdampak serta percepatan penerapan Smart Village di seluruh Indonesia.
Melalui kerja sama dengan Universitas Sriwijaya, program tersebut diharapkan mampu melahirkan kepala desa yang adaptif, inovatif, dan mampu menghadirkan pelayanan publik serta pembangunan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Program KDMK diselenggarakan pada 3-6 November 2026 diikuti oleh 255 kepala desa terpilih yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan.
Selama mengikuti program tersebut, para peserta memperoleh pembelajaran di kelas yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan kompetensi dalam mengembangkan potensi serta mendorong inovasi pembangunan desa.
Materi pembelajaran mencakup pemetaan dan validasi potensi ekonomi desa, penentuan prioritas program pembangunan desa, inovasi desa melalui pendekatan pemikiran desain (design thinking), penerapan ekonomi sirkular, administrasi digital desa serta penyusunan rencana pelaksanaan inovasi desa.
Melalui program itu, para kepala desa diharapkan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam bentuk inovasi serta program pembangunan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.