NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menanamkan semangat kepemimpinan kepada siswa asal Papua saat mengunjungi Sekolah Anak Indonesia (SAI) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis.
Fajar mendorong para siswa mengembangkan potensi dan kepercayaan diri agar kelak mampu menjadi pemimpin serta berkontribusi membangun daerah asal.
"Ini adalah masa depan pemimpin Papua dan masa depan Indonesia. Siap memimpin Indonesia?" kata Fajar saat berdialog dengan para siswa.
Ia mengatakan, setiap anak memiliki kesempatan menjadi pemimpin tanpa memandang latar belakang suku maupun daerah asal.
Menurut dia, pendidikan juga berperan menanamkan nilai kemanusiaan, persatuan, serta sikap saling menghargai dalam keberagaman.
"Pendidikan dan agama mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan menghargai. Apa pun agama dan suku kita, kita adalah Indonesia. Papua adalah Indonesia. Siapa pun, dari mana pun asalnya, boleh menjadi pemimpin Indonesia," ujarnya.
Dalam dialog tersebut, para siswa menceritakan pengalaman belajar hingga cita-cita mereka. Seorang siswi asal Nabire mengaku semakin mandiri dan fokus belajar sejak tinggal di asrama serta bercita-cita menjadi pramugari.
Sementara itu, seorang siswi asal Intan Jaya bercita-cita menjadi dokter karena daerah asalnya masih membutuhkan tenaga kesehatan.
Siswa asal Intan Jaya, Estus, kemudian menanyakan bagaimana pendidikan dapat mengembangkan bakat siswa tanpa membatasi kebebasan mereka dalam belajar.
Fajar menjelaskan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong pembelajaran yang interaktif dan menggembirakan serta memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis.
"Kami mendorong pendidikan yang membebaskan, yang memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, berdialog, serta mengembangkan minat dan bakatnya. Saya melihat pendekatan tersebut sudah dipraktikkan di sekolah ini," kata Fajar.
Ia mengapresiasi metode pembelajaran di SAI yang menghubungkan pendidikan dengan budaya dan kehidupan sehari-hari siswa.
Metode tersebut antara lain menggunakan busur panah sebagai media pembelajaran matematika serta seni ukir Asmat untuk mengembangkan kreativitas siswa.
"Inilah pendidikan yang memanusiakan manusia, terkoneksi dengan alam, mengembangkan bakat, dan memperkuat kemandirian anak," ujarnya.
SAI merupakan sekolah berasrama bagi anak-anak Papua yang dikelola Yayasan Alirena dengan pendekatan pendidikan berbasis potensi anak, budaya, dan alam.
Fajar berharap pendidikan yang diperoleh para siswa selama berada di SAI dapat menjadi bekal untuk kembali ke daerah asal dan berkontribusi terhadap pembangunan Papua.