NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, Indonesia dan Tanzania melakukan uji klinik Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON), untuk meriset penanganan TB melalui pendekatan nutrisi.
"PHOTON akan menguji apakah suplementasi mikronutrien dan balanced protein itu dapat mencegah dan mengobati TB lebih baik. Ini yang akan kita jawab bersama-sama, yang studinya akan berlangsung selama lima tahun," kata Dante di Jakarta, Kamis.
Dante menjelaskan, setiap tahunnya, di Indonesia sekitar lebih dari satu juta orang jatuh sakit karena penyakit tersebut, dan beberapa di antaranya meninggal dunia karena keterlambatan pengobatan atau pengobatan yang tidak maksimal.
"Karena ada berbagai kendala, salah satunya adalah pengobatan TB dan masalah nutrisi yang akan di-highlight pada penelitian PHOTON ini. Mungkin ada satu jawaban yang selama ini ada di piring makan kita," katanya.
Menurutnya, penelitian yang didukung Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk itu memiliki sejumlah arti penting, yakni menentukan arah penanganan TB yang tak hanya melalui pengobatan medis, namun juga melalui pemberian nutrisi yang tepat.
"Kedua, bentuk sumbangan nyata Indonesia bagi dunia selalu menguatkan riset-riset klinis kita yang kali ini kita lakukan di Universitas Indonesia," kata Dante.
Dante menjelaskan pada 2025, ditemukan 867 ribu kasus TB, yakni sebesar 80 persen dari estimasi, sementara pada 2026, upaya deteksi TB semakin baik dengan diintegrasikannya pemeriksaan TB dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG), serta pemeriksaan kontak serumah yang menjangkau 19,7 persen dari target 80 persen.
Ia mengatakan penanggulangan TB adalah tantangan besar yang membutuhkan peran akademisi, klinisi, swasta, dan publik, karena studi itu membuahkan bukti yang dapat mendorong penanganan TB melalui pendekatan baru di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, Principal Investigator Studi PHOTON Rina Agustina mengatakan, eratnya hubungan TB dengan status gizi dan kondisi sosial ekonomi, intervensi gizi berpotensi menjadi strategi pelengkap melindungi kelompok resiko dan mendukung pencepatan eliminasi TB.
"Studi RATIONS di India yang dipublikasikan di Lancet menunjukkan dukungan gizi menurunkan kejadian TB paru terkonfirmasi bakterologis hingga 48 persen pada kontak serumah pasien TB," kata Rina.
Ia mengatakan temuan itu menjadi landasan untuk studi PHOTON, yang bertujuan mengevaluasi efikasi suplementasi gizi selama enam bulan dalam menurunkan kejadian TB yang terkonfirmasi bakterologis baik TB paru maupun ekstra paru pada kontak serumah pasien TB.
Rina mengatakan, studi itu melibatkan 78.400 peserta. Di Indonesia, studi dipimpin Universitas Indonesia bersama para mitra sementara Tanzania, penelitian tersebut dipimpin National Institute for Medical Research atau NIMR.
"Penelitian ini membandingkan 3 pendekatan suplementasi gizi, yaitu vitamin B, kombinasi vitamin B dan multi micronutriens supplementation, serta kombinasi vitamin B, multi micronutriens, dan balanced energy protein dengan kelompok placebo sebagai pembanding. Manfaatnya kita harapkan akan dievaluasi selama 24 bulan," katanya.