Terkait harapan pihak Bangladesh untuk mengoptimalkan neraca perdagangan (trade balance) yang lebih seimbang—termasuk peluang masuknya produk farmasi dan jute (serat yute) ke pasar Indonesia—Wamenlu menyampaikan bahwa hal tersebut dapat diupayakan melalui skema imbal balik untuk produk-produk yang bersifat saling melengkapi (complimentary).

Selain perdagangan, isu kedaulatan energi juga menjadi agenda krusial dalam kunjungan tersebut.

Indonesia dan Bangladesh sepakat mendorong kerja sama konkret mencakup ekspor-impor batu bara, gas alam cair (LNG), bahan bakar minyak (BBM), pembangunan infrastruktur energi, hingga pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

BUMN Indonesia, khususnya Pertamina dan PLN, aktif meraih berbagai peluang proyek energi di Bangladesh, baik melalui skema tender maupun antarpemerintah (g-to-g).

Pertemuan Wamenlu Anis Matta dengan otoritas energi Bangladesh—yang turut dihadiri perwakilan PLN Indonesia Power serta BUMN energi Bangladesh seperti PetroBangla, Bangladesh Petroleum Corporation (BPC), dan Power Development Board (PDB)—berlangsung sangat strategis.

Pertemuan tersebut digelar kurang dari dua pekan setelah Pemerintah Bangladesh menetapkan PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) sebagai pemenang tender proyek pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas Single Point Mooring (SPM) milik BPC senilai 128 juta dolar AS (sekitar Rp2,3 triliun). Capaian ini menjadi bukti besarnya kepercayaan dalam kerja sama kedua negara.