NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta mendorong institusi pendidikan seperti Paguyuban Pasundan untuk bertransformasi menjadi kawah candradimuka yang melahirkan "otak politik dan ekonomi" nasional yang bisa menavigasi ancaman global.

"Ini guna menavigasi ancaman perang hibrida dan perang kognitif global," kata Anis Matta saat memberikan Kuliah Umum Wawasan Geopolitik dan Kebangsaan hasil kerja sama Kementerian Luar Negeri RI dengan Paguyuban Pasundan di Aula Paguyuban Pasundan, Bandung, Rabu.

Di hadapan jajaran Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, pimpinan yayasan, rektor, dekan, hingga guru besar Universitas Pasundan, Anis Matta menekankan pentingnya lembaga pendidikan berbasis organisasi kemasyarakatan (ormas) ini untuk tidak sekadar memproduksi lulusan akademik biasa, melainkan mencetak aktor politik canggih yang mampu membaca konstelasi global, seperti saat ini persaingan Amerika Serikat dan China.

"Perang sekarang bersifat hibrida. Ada politiknya, ada ekonominya, ada sisi geografisnya, ada intelijennya, ada budayanya, dan ada medianya. Semua aspek terlibat dalam pertempuran," kata Anis Matta.

Anis Matta memandang, pasca-runtuhnya Uni Soviet pada 1991 dan bangkitnya kekuatan ekonomi China, seluruh negara sedang melakukan penyesuaian strategis (strategic adjustment). Oleh karena itu, dunia pendidikan Pasundan dituntut membekali generasi muda dengan literasi geopolitik agar Indonesia tidak tergilas menjadi penonton dalam turbulensi global.

"Kita hidup di era di mana inti dari semua pergerakan geopolitik pada dasarnya adalah perang kognitif, perang otak. Siapa yang bisa survive di sini ditentukan oleh orang-orang yang berpikir lebih canggih daripada lainnya. Paguyuban harus menciptakan otak politik dan ekonomi untuk masa yang akan datang," ujar Anis.

Anis meyakini, dengan memanfaatkan keunggulan posisi geografis strategis serta kedekatan diplomasi dengan dunia Islam termasuk konsistensi pengawalan isu Palestina, Indonesia memiliki porsi besar untuk memimpin jika didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni.

"Kita berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan yang dikomandani oleh Prof. Didi Turmudzi insyaallah bisa melahirkan otak-otak terbaik di Indonesia yang bisa menavigasi Indonesia melalui turbulensi geopolitik yang sangat kompleks," tutur Anis Matta.

Sinyal penguatan peranan politik dan moral tersebut disambut hangat oleh Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Prof Didi Turmudzi, yang menyatakan komitmen bahwa pranata pendidikan Pasundan siap melakukan refleksi sekaligus pembaruan guna menjawab tantangan kebangkrutan moral dan intervensi budaya asing.

"Kehormatan bagi kami karena mau datang ke Paguyuban Pasundan. Kita ingin ada gambaran perjuangan umat Islam terutama di era perubahan politik global. Perubahan menuntut zaman baru, kita harus mampu menghadapi realitas baru," tutur Didi Turmudzi.