Kendati demikian, Agus Jabo menilai, regulasi saja tidak cukup untuk membangun ekonomi inklusif dan kesetaraan kerja. Menurutnya, dibutuhkan perubahan pendekatan dalam melihat penyandang disabilitas sebagai penerima bantuan, menjadi pendekatan yang melihat mereka sebagai subyek pembangunan, pekerja profesional, wirausahawan, dan pelaku-pelaku ekonomi.
"Karena itu, program pemberdayaan sosial dan ekonomi harus semakin diarahkan pada kebutuhan nyata dunia kerja, pelatihan keterampilan harus terhubung dengan kebutuhan pasar, pendidikan vokasional harus dihubungkan dengan industri, informasi lowongan pekerjaan harus dapat diakses oleh penyandang disabilitas Proses rekrutmen harus inklusif dan bebas diskriminasi. Dan ketika seseorang telah diterima bekerja, lingkungan kerja harus menyediakan akomodasi yang layak dan aksesibilitas yang diperlukan," jelasnya.
Agus Jabo juga menyebut pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam pembangunan lapangan kerja yang inklusif. Langkah ini membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
Dalam kaitan ini dunia usaha memiliki peran penting dalam membuka kesempatan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif.
"Kita membutuhkan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif, bukan program yang berjalan sendiri-sendiri. Ekosistem tersebut harus dimulai dari pendataan yang baik, asesmen potensi dan kebutuhan, peningkatan keterampilan, pemagangan penempatan kerja, dukungan di tempat kerja, hingga pengembangan karir dan kewirausahaan," katanya.
Salah satu upaya kolaborasi itu terwujud dalam kerja sama antara Indisi dan BEI yang memberikan literasi keuangan dan pengenalan dunia pasar modal serta investasi.
Agus Jabo pun mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap kegiatan yang diselenggarakan menjadi upaya nyata dalam membangun kemandirian, kepercayaan diri, pengetahuan dan kesiapan masa depan para penyandang disabilitas.
"Termasuk dalam mengelola pendapatan, merencanakan kebutuhan, menabung dan memahami berbagai pilihan keuangan. Karena itu, literasi keuangan merupakan bagian penting dari keterampilan hidup. Inilah semangat yang sejalan dengan pembangunan inklusif," ungkapnya.
"Saya berharap kolaborasi seperti ini terus diperluas, bukan hanya dalam literasi pasar modal, tetapi juga dalam pengembangan keterampilan kerja, kewirausahaan, teknologi digital, perencanaan keuangan dan berbagai bidang lainnya yang dapat memperkuat kemandirian penyandang disabilitas," sambungnya.
Selain itu, Agus Jabo juga berpesan kepada para siswa yang hadir bahwa investasi harus dimulai dari pengetahuan, bukan sekadar mengikuti tren. Mereka diminta agar tidak mudah tergoda oleh janji keuntungan yang cepat, mengenali risikonya, mempelajari produknya, memastikan sumber informasi yang dapat dipercaya.