"Ya, ini kita yang pertama strategi kita, kita melakukan intervensi terhadap bantuan pangan. Itu programnya Bapak Presiden. Yang kedua, SPHP ya. Tapi SPHP ini kan masih beras medium," ucapnya.
Saleh juga menyebutkan faktor cuaca yang menurutnya berpotensi mempengaruhi hasil panen pada 2026. Namun, ia belum menyampaikan angka realisasi penurunan produksi akibat kondisi tersebut.
"Memang kita tidak memungkiri (pengaruh) dari cuaca. Sehingga produksi, mungkin tahun ini akan terjadi penurunan hasil panen karena cuaca," tutur dia.
Selain menjaga pasokan, ia menilai penguatan kolaborasi dari hulu hingga hilir perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan distribusi, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap perantara secara bertahap.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia pada Sabtu (31/10), rata-rata harga beras kualitas super I di tingkat eceran secara nasional tercatat Rp18.000 per kilogram (kg), super II Rp17.450 kg, sedangkan medium I Rp16.650 dan medium II Rp16.450 per kg.
Badan pangan Nasional (Bapanas) mencatat realisasi penjualan beras SPHP sepanjang Januari hingga 28 Oktober 2026 mencapai sekitar 1,16 juta ton, sedangkan bantuan pangan beras yang telah disalurkan sebanyak 1,63 juta ton.