Sejumlah massa demo membawa sejumlah poster ke aksi tersebut. Sekitar 500 massa aksi itu membawa poster yang beberapa diantaranya berbunyi 'Arab dan Yahudi hanya akan menang jika bersatu' dan 'Ada mayoritas untuk perubahan'.
Sementara itu, demo di Yerusalem dihadiri 100 orang. Massa juga membawa sejumlah poster yang berbunyi '67 kursi-Bersatu kita teguh, terpecah kita dapatkan Bibi' dan poster bertuliskan 'Mengapa tidak? Kecuali jika kita memang rasis?'
Partai-partai Arab tercatat hanya pernah satu kali duduk secara resmi dalam pemerintahan Israel, yakni ketika pemimpin partai Raam, Mansour Abbas, bergabung dalam koalisi yang berumur pendek, dari tahun 2021 hingga 2022. Ia telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan hal serupa kembali.
Sementara itu, Yousef Jabareen dari aliansi Joint List mengatakan kepada AFP bahwa ia bersedia mendukung Eisenkot di parlemen tanpa harus bergabung ke dalam pemerintahannya-dengan alasan, antara lain, terkait perang di Gaza.
Sementara itu, Eisenkot (66) yang merupakan seorang mantan kepala militer yang baru terjun ke dunia politik, memiliki pandangan yang sebagian besar sejalan dengan Netanyahu mengenai isu-isu keamanan, termasuk terkait Gaza-wilayah yang telah dihancurkan Israel hingga menjadi puing-puing sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Eisenkot menegaskan kembali bahwa ia hanya akan membentuk "pemerintahan Zionis" yang para anggotanya berkomitmen untuk "mengakui Israel sebagai negara Yahudi yang demokratis dan liberal". Ia juga menegaskan "mengakui Hamas sebagai organisasi teroris"-syarat-syarat yang sebelumnya telah ditolak oleh para pemimpin Arab.
Meskipun menyatakan tidak menginginkan pemerintahan yang bergantung pada daftar partai Arab, Eisenkot tidak secara eksplisit menolak dukungan eksternal dari mereka.
Yair Golan, pemimpin partai sayap kiri Democrats, dengan antusias mendukung gagasan pemerintahan yang didukung oleh partai-partai Arab-dengan menyatakan bahwa mengecualikan mereka adalah tindakan rasis.