NADIKABAR.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan Brigade Pangan sebagai model pengelolaan pertanian yang memadukan generasi muda, mekanisasi, teknologi, manajemen usaha, pembiayaan, dan pasar. Model ini menyasar lahan yang belum optimal agar menjadi hamparan produktif.

Gagasan ini berangkat dari persoalan sektor pertanian. Kebutuhan pangan terus meningkat, sementara pertanian menghadapi tantangan regenerasi petani, keterbatasan tenaga kerja, fragmentasi penguasaan lahan, dan mekanisasi yang belum optimal di sejumlah kawasan.

Kementan merancang Brigade Pangan sebagai kelembagaan usaha yang memberi ruang bagi petani muda untuk mengelola lahan secara kolektif. Satu brigade terdiri atas sekitar 15 petani muda yang mengelola lahan sekitar 200 hektare.

Mengelola lahan seluas itu secara manual membutuhkan waktu dan biaya besar. Oleh karena itu, traktor, combine harvester, rice transplanter, pompa, dan alat mesin pertanian (alsintan) lain menjadi bagian penting model ini.

Petani muda juga didorong memahami cara menghitung biaya produksi, mengatur penggunaan alsintan, menentukan jadwal tanam, mengelola keuangan, mencari pembiayaan, membangun kemitraan, hingga memasarkan hasil panen. Brigade Pangan pun diarahkan menjadi kelembagaan ekonomi petani, bukan sekadar penerima bantuan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya kerja bersama dalam menjaga produksi pangan nasional.

"Keberhasilan swasembada pangan adalah keberhasilan kita bersama. Ini merupakan hasil kerja keras petani, penyuluh, pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan seluruh pemangku kepentingan yang terus bekerja menjaga produksi pangan nasional," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10).

Dalam dokumen strategis BPPSDMP, model ini menggabungkan pengelolaan lahan melalui Optimalisasi Lahan (OPLAH) atau cetak sawah, mekanisasi, sarana produksi, kemitraan, dan skema usaha dalam satu ekosistem. Tujuannya meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, memperkuat regenerasi, serta mendukung produksi pangan nasional.

Jumlah brigade tumbuh cepat. Pada awal 2025, Kementan mencatat 1.771 Brigade Pangan di 12 provinsi, sedangkan data Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian per 29 Oktober 2026 mencatat 4.474 brigade di 28 provinsi.