Perbaikan tata air, pengelolaan lahan, penerapan mekanisasi yang dilakukan oleh brigade beranggotakan 15 petani muda dan dipimpin Parden itu berhasil meningkatkan indeks pertanaman. Pada sebagian lahan, indeks pertanaman mencapai IP 300, atau tiga kali tanam dalam setahun.
"Tujuan kita adalah meningkatkan indeks pertanaman. Dengan ketersediaan air yang memadai, indeks pertanaman yang saat ini mencapai 2,5 dapat terus ditingkatkan hingga mencapai 3 kali tanam dalam setahun sesuai potensi wilayah," kata Idha.
Contoh lain datang dari Desa Simpang Datuk, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Awalludin Fajar (31) memimpin Brigade Simpang Datuk III yang beranggotakan 15 orang dan mengelola lahan seluas 205,09 hektare.
Berdasarkan analisis musim tanam yang disampaikan kepada Kementerian Pertanian pada Mei 2025, brigade ini berhasil menaikkan produktivitas lahan dari sekitar 3,2-4 ton per hektare menjadi 5-6 ton per hektare. Dari sis ekonomi,setiap anggota yang terlibat dalam budidaya memperoleh pendapatan rata-rata sekitar Rp20 juta per bulan.
Kedua kisah itu menunjukkan Brigade Pangan berpotensi mengubah cara generasi muda memandang pertanian. Pertanian dapat menjadi pekerjaan yang menuntut kemampuan mengelola teknologi, menghitung biaya, mengambil keputusan, dan membangun bisnis.
Ke depan, tantangannya bukan lagi memperbanyak jumlah, melainkan memastikan brigade berkembang secara sehat, mulai pembentukan, penguatan dan perkembangannya, hingga mandiri. Pada tahap awal, pemerintah memberikan lahan, sarana produksi, alsintan, dan pendampingan.Kapasitas SDM dan manajemen diperkuat agar brigade mampu mengambil keputusan bisnis sendiri, sementara akses pembiayaan dan pasar membantu memperbesar usaha. Bila ekosistem ini berjalan, brigade tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah untuk setiap siklus produksi.
"Target kita adalah mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga IP 250 bahkan IP 300 pada lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah. Dengan peningkatan frekuensi tanam, produktivitas lahan akan semakin optimal dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani maupun ketahanan pangan nasional," ujar Idha.
Dukungan pemerintah diharapkan menjadi modal awal untuk membangun usaha yang terus berputar dan berkembang. Dengan begitu, yang dibangun bukan hanya kapasitas produksi pangan. Yang sedang dibangun adalah generasi baru penggerak pertanian, yang tidak hanya mewarisi sawah tetapi mampu mengelolanya.Masa depan pertanian pun bergantung pada kemampuan generasi muda mengelola lahan menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan. "Karena itu, semangat kolaborasi harus terus dijaga agar produksi pangan nasional tetap meningkat dan berkelanjutan," pungkas Idha.