Pengendara motor lainnya, Saldi juga tidak akan rela antre berjam-jam di SPBU jika bukan karena terdesak mengisi BBM. Dia khawatir motornya mogok jika nekat melanjutkan perjalanan saat bensinnya sudah menipis.
"Bukan (antre karena panic buying), ini karena memang habis, ini sudah merah (indikator BBM di motor). Jadi karena memang habis. Yang jelas bukan karena panik, tapi habis," kata Saldi kepada wartawan, Jumat (11/9).
Saldi mengaku terpaksa antre lantaran sudah lelah berkeliling di sejumlah SPBU tetapi antrean kendaraan tetap terjadi. Situasi serupa juga ditemukan di Kepulauan Selayar yang merupakan daerah asalnya.
"Saya kan dari Selayar, kemarin baru tiba (di Makassar). Di Selayar lebih parah lagi. Kadang kalau ada yang jual botolan itu pun sudah mahal, Rp 30 ribu 1 liter," paparnya.
Senada, pengendara motor bernama Rifqi juga menepis anggapan panic buying memicu antrean BBM. Dia menganggap antrean kendaraan di SPBU sudah di luar dari batas kewajaran jika hanya dipicu atas dalih kepanikan warga.
"Kalau panik ini sepeda motor tidak sampai begini antreannya. Kalau mobil mungkin, karena kan banyak yang tampungannya untuk diisi. Kalau motor kan kebutuhan hari-hari 4 sampai 5 liter," terang Rifqi.
Menurut Rifqi, antrean BBM imbas puncak dari akumulasi pembatasan BBM. Dia beranggapan situasi yang meresahkan masyarakat ini tidak mungkin terjadi kalau sebelumnya tidak dibatasi.
"Saya lihat ini masalahnya karena akumulasi dari 4 hari ini saya rasa mereka menunggu, karena sebelumnya dibatasi," imbuh Rifqi.
Antrean BBM di SPBU turut membuat warga mencari alternatif mengisi bensin eceran alias pertamini di warung. Pengisian BBM di tingkat pengecer menjadi alternatif lantaran antreannya meski tidak sepanjang di SPBU.
"Mau bagaimana kita ini kalau bensin motor sudah mau habis, nanti mogok, kita mendorong. Di SPBU juga antrenya sudah panjang sekali. Itupun belum tentu kita antre bisa kebagian stok," kata pengendara motor, Abadi di sebuah warung Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Jumat (11/9).
Abadi terpaksa membayar pembelian BBM di tingkat pengecer meski lebih tinggi dibanding SPBU. Dia mengaku sudah lelah berkeliling SPBU dan menghabiskan waktu menunggu giliran.
"Saya isi di pertamini, tapi bukan Pertalite, dia (pedagang) jualnya Pertamax. Itu Pertamax dijual harga Rp 20 ribu per liter. Mahal tapi tidak tahu mau bagaimana lagi," cetusnya.
Dia mengeluh antrean BBM di SPBU sudah sangat meresahkan. Abadi berharap kondisi ini bisa segera berakhir karena mengganggu aktivitas harian dan pekerjaannya.