Anggota TEP 1 UGM Bacan Andarifka menjelaskan program tersebut dirancang berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat. Selain praktik pengolahan kelapa parut kering, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengemasan minyak kelapa agar kualitas produk lebih terjaga.
"Kami ingin menghadirkan program yang sederhana, sesuai kebutuhan masyarakat, tetapi bisa berkelanjutan. Harapannya, mama-mama dapat mengembangkan produk sendiri dan memperoleh peluang ekonomi yang lebih luas," ujar Andarifka.
Tantangan aksesibilitas menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan usaha masyarakat Desa Jojame. Perjalanan dari Labuha menuju desa tersebut harus ditempuh melalui jalur laut dan dapat memakan waktu sekitar empat jam.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga dalam menjangkau pasar dan memasarkan hasil olahan kelapa.
Untuk mendukung keberlanjutan program, TEP 1 UGM Bacan berkoordinasi dengan Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan (Distransnaker) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Halmahera Selatan guna menjajaki peluang pemasaran produk di Labuha.
Tim juga meninggalkan sejumlah peralatan agar masyarakat dapat melanjutkan praktik pengolahan secara mandiri.
Menteri Transmigrasi RI (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan pentingnya peningkatan nilai tambah komoditas lokal.