Senada dengan hal itu, Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan menyoroti banyaknya pegiat olahraga high-impact yang abai terhadap pemeriksaan tensi dan skrining awal kardiovaskular.
"Banyak yang berolahraga high-impact, semua lari, semua ikut Hyrox, tapi tidak memperhatikan tensinya dan tidak memperhatikan kesehatan jantungnya, sehingga akhirnya terjadi cardiac arrest," ujar Iwet.
Guna mengikis stigma bahwa olahraga harus selalu ekstrem dan kompetitif, Perki bersama YJI akan menggelar ajang World Heart Day Run 2026 dengan rute 5 kilometer di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 27 September mendatang.
Ajang lari tersebut dirancang dengan konsep non-kompetitif (non-competitive run) untuk mengedukasi publik bahwa aktivitas fisik bertujuan menyehatkan tubuh secara bertahap, bukan ajang adu cepat yang membahayakan keselamatan.