Selain lari santai, rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 juga akan diisi dengan pelatihan massal Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru bagi masyarakat awam.

"Selama ini kalau ada orang pingsan atau henti jantung di lapangan, masyarakat kerap bingung dan hanya menepuk-nepuk atau mengangkat korban secara keliru. Padahal, penanganan BHD yang tepat dan cepat pada menit-menit awal sangat menentukan peluang keselamatan korban," tutur Rizky.

Berdasarkan data medis, penyakit kardiovaskular menyerang kelompok lanjut usia, bahkan kian mengintai kelompok usia 20 hingga 45 tahun, dengan proporsi kasus tertinggi mencapai 80 persen pada laki-laki akibat kombinasi hipertensi tak terkontrol, kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.

Masyarakat pun diimbau untuk rutin mengontrol tekanan darah dan memeriksakan diri secara berkala ke fasilitas kesehatan sebelum memutuskan mengambil porsi latihan fisik dengan beban intensitas tinggi.