"Nah, kalau terjadi berbulan-bulan, bertahun-tahun, itu partikel debu yang mengandung silika itu bisa terdisposisi di paru. Dan akan menyebabkan terjadinya fibrosis, ya fibrosis atau kekakuan pada paru yang disebut sebagai silikosis," ungkap Prof Agus dalam siaran detikPagi, Senin (7/9/2026).
Ketika fibrosis terjadi, organ paru-paru kehilangan elastisitasnya. Paru-paru yang seharusnya mudah kembang-kempis saat mengambil oksigen menjadi kaku, sehingga penderitanya akan mengalami sesak napas yang menetap.
Bahaya paru-paru kaku ini sering kali dianggap hanya mengintai pekerja tambang atau warga yang terpapar debu bertahun-tahun. Padahal, pada bencana abu vulkanik pekat, kondisi ini bisa datang jauh lebih cepat dalam silikosis akut.
"Silikosis akut yang biasanya bisa terjadi dengan konsentrasi tinggi. Setelah satu tahun, tim redaksi 8 bulan sampai 1 tahun, bisa terjadi silikosis akut kalau terpajan dosis tinggi abu vulkanik yang mengandung silika ini," lanjutnya.
Proses menuju paru-paru kaku tidak terjadi secara mendadak, melainkan diawali dari peradangan yang diabaikan.