Saat abu masuk, sel-sel epitel saluran napas mengalami iritasi dan membengkak (edema). Pembengkakan ini menyempitkan saluran napas bagaikan pipa yang tersumbat, membuat asupan oksigen menurun dan napas terasa berat.
Jika paparan ini terjadi terus-menerus, sistem pembersih alami paru-paru (mucociliary clearance) akan lumpuh, memicu ISPA berulang, radang paru, hingga akhirnya berujung pada kerusakan permanen.
"Tapi kalau itu berlanjut terus-terusan, maka inflamasinya akan, peradangannya akan berlanjut menjadi kronik. Nah kalau kronik, penyempitannya akan menjadi juga menahun kronik. Akan terjadi gangguan fungsi paru, fungsi paru kita menurun," tambahnya.
Kerusakan jaringan paru-paru hingga menjadi kaku ini bersifat ireversibel alias tidak bisa disembuhkan atau dikembalikan seperti semula.
Oleh karena itu, saat terjadi erupsi gunung berapi dan sebaran abu vulkanik meluas, menggunakan masker jenis respirator seperti N95 atau KN95 saat berada di luar rumah serta membatasi aktivitas ruangan bukan lagi sekadar formalitas melainkan benteng utama agar paru-paru tidak mengeras di kemudian hari.