NADIKABAR.COM — Berbagai masalah pernapasan, mulai dari tenggorokan gatal, batuk berdahak, hingga sesak napas bermunculan imbas meluasnya sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. Kebanyakan orang menganggap masalah ini bakal hilang begitu abu mereda, padahal ancaman kesehatan jangka panjang bisa jadi tengah bekerja secara senyap.
Jika abu vulkanik terus-menerus terhirup tanpa pelindung, jaringan paru-paru manusia yang tadinya lentur dan fleksibel bisa berubah menjadi keras dan kaku. Kondisi medis ini dikenal sebagai silikosis dan fibrosis paru.
Paru-paru kaku terjadi akibat kandungan dari abu vulkanik itu sendiri. Abu vulkanik kaya akan partikel halus berukuran di bawah 2,5 mikron yang didominasi oleh mineral silika.
Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini lolos dari saringan hidung dan meluncur bebas hingga ke dalam rongga paru-paru terdalam.
Praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan, ketika partikel silika ini tertanam lama di dalam paru-paru, tubuh meresponsnya dengan membentuk jaringan parut berlebih (fibrosis).
"Nah, kalau terjadi berbulan-bulan, bertahun-tahun, itu partikel debu yang mengandung silika itu bisa terdisposisi di paru. Dan akan menyebabkan terjadinya fibrosis, ya fibrosis atau kekakuan pada paru yang disebut sebagai silikosis," ungkap Prof Agus dalam siaran detikPagi, Senin (7/9/2026).
Ketika fibrosis terjadi, organ paru-paru kehilangan elastisitasnya. Paru-paru yang seharusnya mudah kembang-kempis saat mengambil oksigen menjadi kaku, sehingga penderitanya akan mengalami sesak napas yang menetap.
Bahaya paru-paru kaku ini sering kali dianggap hanya mengintai pekerja tambang atau warga yang terpapar debu bertahun-tahun. Padahal, pada bencana abu vulkanik pekat, kondisi ini bisa datang jauh lebih cepat dalam silikosis akut.
"Silikosis akut yang biasanya bisa terjadi dengan konsentrasi tinggi. Setelah satu tahun, tim redaksi 8 bulan sampai 1 tahun, bisa terjadi silikosis akut kalau terpajan dosis tinggi abu vulkanik yang mengandung silika ini," lanjutnya.
Proses menuju paru-paru kaku tidak terjadi secara mendadak, melainkan diawali dari peradangan yang diabaikan.
Saat abu masuk, sel-sel epitel saluran napas mengalami iritasi dan membengkak (edema). Pembengkakan ini menyempitkan saluran napas bagaikan pipa yang tersumbat, membuat asupan oksigen menurun dan napas terasa berat.
Jika paparan ini terjadi terus-menerus, sistem pembersih alami paru-paru (mucociliary clearance) akan lumpuh, memicu ISPA berulang, radang paru, hingga akhirnya berujung pada kerusakan permanen.
"Tapi kalau itu berlanjut terus-terusan, maka inflamasinya akan, peradangannya akan berlanjut menjadi kronik. Nah kalau kronik, penyempitannya akan menjadi juga menahun kronik. Akan terjadi gangguan fungsi paru, fungsi paru kita menurun," tambahnya.
Kerusakan jaringan paru-paru hingga menjadi kaku ini bersifat ireversibel alias tidak bisa disembuhkan atau dikembalikan seperti semula.
Oleh karena itu, saat terjadi erupsi gunung berapi dan sebaran abu vulkanik meluas, menggunakan masker jenis respirator seperti N95 atau KN95 saat berada di luar rumah serta membatasi aktivitas ruangan bukan lagi sekadar formalitas melainkan benteng utama agar paru-paru tidak mengeras di kemudian hari.