NADIKABAR.COM — Liburan biasanya identik dengan bersantai. Ada yang memilih rebahan di hotel, berburu kuliner, atau menikmati pemandangan alam. Namun bagi sebagian orang, liburan justru berarti bangun sebelum subuh, mengenakan sepatu lari, lalu menempuh puluhan kilometer hingga garis finis.

Fenomena itu semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang kini menentukan tujuan perjalanan bukan karena pantainya, pusat belanjanya, atau tempat wisatanya, melainkan karena ada lomba lari yang ingin mereka ikuti. Dari sinilah istilah running tourism atau wisata lari semakin populer.

Dalam konsep ini, perlombaan menjadi alasan utama seseorang bepergian. Mereka datang beberapa hari sebelum lomba untuk mengambil race pack, beradaptasi dengan cuaca dan suasana kota, lalu bersiap menghadapi hari perlombaan. Setelahnya, perjalanan berlanjut dengan menjelajahi destinasi, mencicipi kuliner lokal, atau menikmati sisi lain kota yang baru dikunjungi.

Indonesia ikut merasakan tren tersebut. Kalender lomba lari semakin padat dari tahun ke tahun, mulai dari ajang komunitas hingga race lari besar seperti Jakarta International Marathon (JAKIM), Borobudur Marathon, Maybank Marathon, dan Jogja Marathon. Setiap ajang menawarkan pengalaman berbeda, dari lintasan perkotaan hingga panorama alam dan budaya lokal.

Banyak pelari memulai perjalanan mereka dari lomba 5 kilometer atau 10 kilometer. Setelah itu, target perlahan meningkat menjadi half marathon, marathon penuh sejauh 42,195 kilometer, hingga trail run ratusan kilometer yang ditempuh selama berhari-hari. Seiring waktu, tujuan mereka pun berubah. Bukan lagi sekadar mengejar catatan waktu, tetapi juga mencari pengalaman baru di tempat yang berbeda.

Setelah menaklukkan berbagai race di dalam negeri, sebagian pelari mulai mengincar lomba internasional. Nama-nama seperti Tokyo Marathon, Berlin Marathon, London Marathon, Boston Marathon, Chicago Marathon, Sydney Marathon, hingga New York City Marathon menjadi target berikutnya. Bahkan, bagi banyak pelari, mendapatkan slot untuk salah satu ajang tersebut sudah menjadi pencapaian tersendiri.

Demam marathon juga merambah kalangan pesohor. Di Indonesia, sejumlah tokoh publik terlihat rutin mengikuti berbagai race, baik di dalam maupun luar negeri. Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beberapa kali mengikuti marathon dan half marathon, termasuk di ajang internasional. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020-2024 Sandiaga Uno juga dikenal aktif mengikuti berbagai event lari sebagai bagian dari gaya hidup sehatnya.

Nama lain yang kerap terlihat di garis start adalah pasangan Ussy Sulistiawaty, Nirina Zubir, Tirta Mandira Hudi, dan mantan anggota JKT48 Cindy Gulla, juga menjadi salah satu figur publik yang aktif berlari dan mengikuti berbagai event lari internasional. Jika nama-nama di awal mentas di ajang road race, Cindy memilih ultra marathon dan trail run.

Kehadiran para pesohor itu menunjukkan bahwa marathon kini bukan lagi olahraga yang identik dengan atlet elite. Bagi banyak orang, race telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus alasan untuk bepergian. Tak sedikit yang memilih destinasi liburan berdasarkan kalender lomba lari yang ingin mereka ikuti.

Suami istri Hendra dan Hastin, di tim redaksi mereka yang jalan-jalan sambil berlari marathon. Awalnya, mereka menjajal Berlin tapi sayang visa nggak tembus. Bukannya jera, mereka mengalihkan ke Bangkok. Lagi-lagi bukan cuma buat wisata berdua, tapi mereka sekaligus menuntaskan lari sejauh 42,195 km itu.

Setelah lari di Bangkok Marathon 2025, Hendra dan Hastin melanjutkan hobi itu ke Sydney Marathon pada 2026 pada khir Agustus lalu.

"Katanya marathon itu 1% bakat dan 99% disiplin, itu benar banget. Terlepas dari persiapan itu, sekarang kami lebih sering sibuk cari race dulu, baru pilih destinasi wisata, kemudian berburu tiket pesawat," kata Hendra dalam perbincangan dengan NadiKabar.