Ilham Zulfikar dan Tia menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah marathon bisa berubah menjadi alasan untuk bepergian. Awalnya, Ilham lebih dulu mendapatkan slot Tokyo Marathon melalui sistem undian atau ballot. Saat itu Tia hanya ikut sebagai pendamping.
Namun pengalaman tersebut justru membuat Tia jatuh hati pada dunia marathon.
"Pas lari di Tokyo saya nemenin jalan-jalannya saja, kasih support pas race. Ternyata di sana marathon vibes-nya dapat banget, full cheering dari start sampai finish. Nggak cuma itu, warga lokal juga respek banget, mereka kasih selamat ke Ilham yang pakai medali. Kemudian di Berlin tahun berikutnya saya ikut lari," kata Tia.
Menurut dia, daya tarik running tourism bukan hanya soal lomba.
"Keseruannya itu yang asyik banget. Race-nya dapat, wisatanya juga dapat," ujar dia.
Pengalaman serupa dirasakan Krisna Kartika. Perempuan yang tinggal di Jakarta itu sudah beberapa kali mengikuti marathon di dalam maupun luar negeri, mulai dari Maybank Marathon, Pocari Sweat Run Bandung, Jakarta International Marathon, hingga Chicago Marathon di Amerika Serikat.
Menurut Krisna, setiap lomba menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.
"Kalau Maybank itu sekalian wisata. View alamnya bagus, hijau-hijau sepanjang rute. Kalau beruntung cuacanya adem. Masyarakatnya juga welcome banget. Cocok buat pelari rekreasional yang nggak terlalu fokus ke PB dan ingin menikmati perjalanan," kata dia.
Pengalaman berbeda ia rasakan saat mengikuti Chicago Marathon.
"Milih lari di Chicago karena sekalian mau jalan-jalan ke Amerika, pertama kali sepanjang hidup. View gedung-gedung pencakar langit bikin kagum, cheering-nya juga luar biasa. Cuacanya jelas berbeda dibanding Indonesia, dingin dan berangin, jadi perlu persiapan khusus," ujar Krisna.
Founder marathon travel specialist Cerita Lari, Faizin Kadni, menilai running tourism di Indonesia terus berkembang dan tidak lagi hanya menjadi tren sesaat.