NADIKABAR.COM — Yamaha menarik diri dari MotoGP Qatar 2026 yang akan digelar 6-8 November mendatang. Isu keamanan jadi alasannya.
"Menyusul penilaian terkini terhadap situasi di Timur Tengah, Yamaha belum menemukan alasan yang cukup kuat untuk mengubah kebijakan pembatasan perjalanan yang berlaku di seluruh perusahaan," bunyi pernyataan Yamaha pada Minggu (1/11).
"Oleh karena itu, Yamaha telah menginformasikan kepada MotoGP Group mengenai keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam Grand Prix Qatar 2026.
"Keputusan ini mencerminkan penilaian Yamaha berdasarkan informasi yang tersedia saat ini dan tidak bergantung pada langkah-langkah yang diterapkan oleh MotoGP Group maupun penyelenggara acara."
"Yamaha tetap berkomitmen penuh terhadap MotoGP dan berharap dapat kembali berkompetisi pada Grand Prix Portugal," tutup pernyataan tersebut.
Yamaha memiliki dua tim yang berlaga pada MotoGP 2026. Artinya akan ada empat pebalap yang absen di Lusail, salah satunya Jack Miller yang terang-terangan menyebut sebagian besar pebalap enggan terbang ke Qatar.
"Saya tak mau pergi (ke Qatar). Seperti yang lain. Ada 19 dari kami yang tak mau ke sana. Saya tak berpikir kami harus membalap seperti itu. Kami sudah menjelaskan opini kami. Tunggu saja keputusannya seperti apa," ujar pebalap Australia itu, dikutip Motorsport.
"Sebagai para pebalap, kami telah bersatu dan berupaya semampu kami, serta menggunakan segala sarana yang kami miliki untuk menyampaikan keberatan. Hal ini bukan hanya demi kepentingan kami sebagai pebalap, tetapi juga bagi pihak-pihak lain yang terlibat dalam kejuaraan ini. Jika Anda berbicara dengan 50% orang di area paddock, tidak ada satu pun yang ingin pergi ke sana. Saya tidak mengerti mengapa kami harus pergi. Saya benar-benar tidak mengerti.
"Saat ini, kondisi di Qatar sendiri aman. Saya menyukai Qatar. Namun, masalahnya terletak pada wilayah-wilayah di sekitarnya. Sayangnya, negara-negara tetangga di sana sedang menghadapi sejumlah masalah. Ada banyak ketidakpastian untuk menggelar sebuah ajang berskala global di sana," tegasnya.
Keputusan Yamaha sudah ditanggapi oleh MotoGP, yang "kecewa" dengan langkah tersebut meski memahami bahwa ada hierarki dari atas yang membatasi mereka. Mereka menyebut sejauh ini persiapan balapan di Qatar masih berjalan lancar dan kini ada potensi ancaman sanksi untuk pabrikan Jepang tersebut.
"Setelah berkonsultasi dengan Negara Qatar, Sirkuit Internasional Lusail, penasihat keselamatan independen, serta melalui proses penilaian risiko yang terus dilakukan oleh pihak MotoGP sendiri, kami tidak menerima informasi apa pun yang mengharuskan adanya perubahan terhadap rencana penyelenggaraan acara saat ini," bunyi respons MotoGP.
"Hari ini (Minggu), kami telah menyampaikan posisi tersebut beserta informasi terkini yang tersedia kepada seluruh pabrikan dan tim. Kami menyambut baik konfirmasi dari tim-tim lain yang menyatakan akan tetap berkompetisi di Qatar, dan kami berterima kasih atas komitmen mereka."
"Selain dampak kontraktual dalam perjanjian antara Yamaha dengan MotoGP dan IRTA akibat keputusan tersebut, absennya Yamaha juga berdampak pada aspek olahraga. Konsekuensi apa pun yang muncul dalam aspek olahraga akan ditangani oleh FIM sesuai dengan regulasi kejuaraan," tutup pernyataan tersebut.
Motorsport menyebut MotoGP terus mengingatkan para tim agar mengikuti semua balapan sesuai dengan kontrak. Ada ancaman sanksi finansial dan olahraga yang menyertai jika absen di Qatar, termasuk potensi larangan ikut balapan di sisa musim ini, yakni di Portugal dan Valencia.
Situasi keamanan di Timur Tengah yang tak menentu sejak awal tahun ini berdampak pada berbagai agenda olahraga di sana. Di Formula 1, GP Arab Saudi telah dibatalkan dan GP Bahrain dipindahkan ke Malaysia. Nasib GP Qatar dan GP Abu Dhabi yang dijadwalkan pada 29 November dan 6 Desember juga masih tanda tanya.